Sunday, April 17, 2005

100 Keajaiban Alam Dunia (100 Natural Wonders of The World) - part 6


 


 


HuangShan :


Kalau melihat lukisan gantung pemandangan Cina kuno yang
menggambarkan pegunungan yang sangat curam, selintas bisa
terfikir bahwa si pelukis terlalu melebih-lebihkan/mendramatisir.
Apa iya sih ada pegunungan segitu curamnya ?.
Ternyata pemandangan itu sungguh-sungguh ada.


Terletak disebelah selatan Sungai YangTze, didekat perbatasan
antara propinsi JiangXi dan AnHui, terdapat rentang pegunungan
yang disebut HuangShan.
Sebenarnya pegunungan ini terdiri dari 72 puncak,
yang masing-masing posisinya begitu vertikal -
sulit dipercaya dan begitu mempesona mata yang melihatnya.


Tiga gunung yang tertinggi, GuangMing Ding (Puncak Terang) -
LianHua ( Bunga Lotus) - TianDu (Ibukota Surgawi), tingginya
melebihi 1800 meter dan nyaris tegak lurus,
inilah yang direkam dan diabadikan para pelukis dari abad ke abad.


Tak ketinggalan, para penyair juga mengekspresikan pemandangan
menakjubkan itu, yang disebut Empat Keindahan Unggul, yaitu :
Puncaknya - Pohon Cemaranya - Musim Seminya - dan Kabutnya
mengalir dengan luar biasa indahnya diantara puncak-puncak gunung.


Sebenarnya HuangShan tidak terlalu jauh dari Wuhan, sekitar sejam
terbang saja, tapi delay penerbangan membuat malam hari barulah
kami bisa mendarat di HuangShan airport yang tampak kecil saja.
Saat berjalan menuju bus yang menunggu, udara dingin dan kendaraan
yang terlihat tinggal sedikit di lapangan parkir - membuat perasaan
menjadi agak kurang nyaman juga.
Apalagi setelah Tour Leader kami yang fasih bicara Mandarin terlihat
agak kagok berkomunikasi dengan Local Guide yang menjemput -
Wah dialeknya rada susah difahami katanya.



Kami berencana menginap dua malam di HuangShan, malam pertama
disebuah hotel yang berada di kaki gunung HuangShan , sedangkan
esoknya barulah menginap dihotel yang berada di lereng gunung.


Karena kami tiba sudah menjelang tengah malam maka praktis hotel
yang pertama digunakan untuk tidur saja dan mengumpulkan tenaga,
maklum esoknya kami akan jalan kaki naik turun gunung seharian penuh.


Pagi-pagi kami sudah check-out dan menitipkan koper, hanya handbag
untuk keperluan menginap semalam yang kami bawa dan segera bergegas
menuju stasiun Cable Car yang berjarak beberapa menit saja jalan kaki.


Cable Car mendaki dengan kemiringan yang mendebarkan, dikiri kanan
tampak lereng gunung batu yang curam sekali, dan tampak pula jalan
setapak yang bisa digunakan oleh orang yang mau ke puncak dengan
berjalan kaki.


Turun dari cable car, kami disambut deretan tandu yang siap menandu
para pengunjung yang tidak kuat mendaki dengan kakinya sendiri.
Sebagian rekan perjalanan yang sudah tua tampak naik tandu, dan
mulailah kami berjalan kaki menuju hotel yang sebenarnya tidak terlalu
jauh dari stasiun itu, cuma karena jalannya turun naik membuat cukup
dengkul goyah.


Sesampai di hotel, kami cuma check-in lalu menaruh handbag, dan
saat akan cuci tangan ternyata air ledeng tidak mengalir -
sampai kami heran kok payah bener nih hotel yang katanya terbaik
dan konon JiangJeMin juga nginapnya disitu.
Ternyata memang air ledeng mengalir setiap hari hanya sejam pagi
dan sejam sore - maklum HuangShan adalah gunung batu dimana
tidak ada sumber air sedikitpun.


Jadi rupanya air bersih untuk keperluan hotel diambil dari kaki
gunung dengan cara dipikul melalui jalan setapak yang kami lihat
tadi saat naik Cable Car.
Wah sungguh engga tega bener saat kami kemudian berpapasan
dengan para tukang pikul yang tampak terengah-engah keberatan
mendaki gunung begitu tinggi sambil memikul beban.
Aneka barang yang tampak dipikul, selain air juga sayuran,
daging dan berbagai barang keperluan hotel lainnya.


Setelah semua siap, maka mulailah kami berjalan kaki dengan
dipandu local guide untuk berkeliling naik turun gunung sampai
sore hari.
Ternyata hebat sekali ! - sekian jauh kami berjalan hari  itu tidak
sekalipun kaki kami menginjak tanah licin karena telah dibuatkan
anak tangga yang terbuat dari belahan batu gunung - luar biasa !
Ini sangat memudahkan kami,  tidak usah khawatir kepeleset dll.
(foto)


Tapi memang perjalanan itu sangat berat, kami harus naik turun
mendaki sekian puncak gunung yang begitu curam, sehingga
entah berapa kali rombongan kami mogok untuk cari nafas (foto).


Memang tidak harus kami jalan terus, dipersilahkan balik lagi
kalau tidak kuat, tapi setiap tiba disatu puncak gunung atau
tepian jurang selalu dihadapkan dengan pemandangan yang
begitu luar biasa indahnya (foto) -
sehingga kami "terpaksa" meneruskan lagi perjalanan mendaki
gunung berikutnya untuk melihat pemandangan memukau lainnya.


Berbagai puncak gunung itu seakan berlomba memamerkan
keindahan maupun keunikannya.
Disatu lokasi kami berada ditempat yang begitu tinggi dengan
pemandangan kearah bawah gunung yang mendebarkan hati.
(foto)
Dan ditempat lain kami mendapati berada dipinggir jurang
yang begitu dalam seakan tak berdasar -
dinding yang hampir tegak lurus membuat kami sulit melihat
dasar jurang dalam itu.(foto)


Dibanyak tempat ditepi jurang dalam itu dipasangi rantai
pengaman yang telah dipenuhi gembok yang dipasang oleh
pasangan suami istri -
simbol bahwa mereka tidak akan terpisahkan.(foto)


Dinding batu dari gunung itu memang gundul tidak ditumbuhi
rumput, tapi disana-sini pada sela-sela batu justru tumbuh
pohon cemara yang membuat gunung tampak keren dan
cantik sekali.(foto)


Konon kalau kebetulan ada gumpalan awan putih melewati
dan menerobos lereng puncak runcing itu maka lengkaplah
sudah keindahan HuangShan.
Sayang saat kami berada disana tidak ada fenomena alam
yang cantik itu - tapi kami tentu sangat bersyukur masih bisa
menikmati pemandangan yang indah dari HuangShan karena
seringkali pelancong yang sudah jauh2 datang harus gigit jari.
Seorang kenalan bercerita bahwa saat dia berada disana,
turun kabut yang tebal sekali dan juga hujan gerimis,
sehingga dia tidak bisa melihat apapun - semua tertutup kabut.



Tammat.


 



 

No comments:

Post a Comment