Sunday, December 30, 2007

Medjugorje - kota kecil yang dipilih Bunda Maria.




Medjugorje ("between the hills") awalnya hanyalah kota kecil yang
berada jauh terbenam di jantung semenanjung Balkan.
Tetapi kini tidak hanya terkenal keseluruh Bosnia-Hercegovina -
negara dimana desa itu berada, juga ke seluruh dunia, setelah
Bunda Maria pada tanggal 24 Juni 1981 menampakkan diri kepada
enam orang anak muda disebuah bukit di desa itu, dan kemudian
menyampaikan pesan :

"I have come to tell the world that God exists.
He is the fullness of life, and to enjoy this fullness and peace,
you must return to God".

Sejak itulah jutaan orang dari seluruh dunia berdatangan ke
Medjugorje, untuk mendapatkan pembaharuan dan penguatan iman.

Setelah mengunjungi Lourdes di Perancis Selatan dan Fatima di
Portugal tempat Bunda Maria pernah menampakkan diri pula,
kali ini pada tanggal 28 Oktober 2006 dalam perjalanan dari Sarajevo
menuju Dubrovnik, terbuka kesempatan mengunjungi Medjugorje.

Siang hari itu setelah melalui kota Mostar, bus kami berjalan
sepanjang lereng pegunungan dengan pandangan cantik sekali
ke lembah dan sungai nun jauh dibawah - terasa melegakan sekali
setelah melihat puing-puing mengenaskan sisa perang Bosnia
di Sarajevo.

Setiba di kota Medjugorje yang asri, kami makan siang dulu di
Restoran Galija yang menyajikan menu ikan Trout.
Hanya menyebrang jalan sampailah kami di Gereja St. James,
didalam gereja utama ini sedang dilakukan persiapan peringatan
25 tahun Bunda Maria menampakkan diri di Medjugorje.
Ternyata lokasi penampakan bukan disitu, tapi disebuah bukit
ditepi desa, maka kami naik bus lagi dan tidak lama sekitar
10 menit saja sudah tiba ditempat parkir bus.

Semua berjalan kaki melewati jalan yang membelah pedesaan
dan sampai disebuah jalan setapak disisi kanan jalan desa itu.
Kini memasuki jalan kecil yang menanjak, dan kami terhenyak
karena didepan kami kini tidak lagi jalan batu yang mulus tapi
jalan yang walau lebar itu dipenuhi batu-batu besar kecil
warna coklat kemerahan yang sungguh tidak beraturan -
sulit sekali berjalan disitu. Maka dengan hati-hati sekali kami
berjalan pelan-pelan diantara bebatuan, dengan sesekali berhenti
didepan prasasti-prasasti tentang Bunda Maria.

Akhirnya setelah sekitar 20 menit berjalan bersama banyak peziarah
dari berbagai negara, tibalah di lokasi Bunda Maria menampakkan diri
seperempat abad yang lalu itu.
Di titik itu terdapat patung Bunda Maria berukuran agak besar warna
putih, semua peziarah menuju kesana untuk hening berdoa.

Kami tidak bisa ber-lama2, karena perjalanan ke Dubrovnik masih jauh,
dan harus melewati dua pemeriksaan imigrasi yaitu Bosnia dan Croatia.
Ternyata memang walau tidak banyak bus yang melewati gate imigrasi
kedua negara itu, waktu yang diperlukan melewatinya hampir dua jam.
Ini berakibat kami terlambat makan malam di Dubrovnik, lihat :
Intisari Agustus 2007 : Dubrovnik - Mutiara Cantik Ditepi Adriatic
http://smulya.multiply.com/photos/album/192
Note :
Maestro Andrea Bocelli akan mengunjungi Medjugorje saat berlangsung
Youth Fest 2008, dan mengadakan konser didalam gereja St. James
pada tanggal 3 Augustus 2008.


Damai Natal dari Lembah Karmel.





Selama ini pernah beberapa kali ikut Misa hari Minggu
di Gereja Lembah Karmel - Desa Cikanyere, Cipanas,
tapi belum pernah sekalipun pada saat perayaan Natal.
Kebetulan Nuke dan Wimpie sempat, maka kalau tahun
lalu di Bandung, maka Natal ini kami kumpul di Cipanas.

Sempat nilpon menanyakan jam upacara Malam Natal,
ternyata hanya ada satu kali saja jam 22.00.
Diinformasikan juga bahwa biasanya pengunjung sejak
jam 20.00 sudah berdatangan.

Kami makan malam di restoran Amen, yang dipilih karena
tidak jauh dari pertigaan jalan raya Ciloto-Cipanas dengan
jalan yang menuju Puncak Resort, jadi selesai makan
bisa langsung ngebut kearah Lembah Karmel itu.

Sekitar jam 20 kami start dari Restoran Amen, jalan sepi
sehingga perjalanan lancar mengarah ke Puncak Resort -
Taman Bunga Nusantara, sekitar lima kilometer kemudian
belok kekanan memasuki jalan kecil.
Jalan terus menanjak, gelap dan sepi sekali, hanya ada
satu mobil lain yang beriringan, tapi begitu belok memasuki
komplek Lembah Karmel terlihat antrian panjang kendaraan
yang akan memasuki tempat parkir.

Untunglah walau agak jauh, masih bisa dapat tempat parkir.
Kami berlima berjalan kaki menuju gereja yang ada di atas
bukit, karena sudah lama sekali tidak kesana, baru tahu
kalau bangunan gereja yang lama sudah tidak lagi dipakai.

Sebelum memasuki gereja yang baru itu, semua mendapat
lilin Natal dan kantong plastik untuk menyimpan sepatu.
Jadi masing2 nenteng sepatunya dalam kantong itu dan
dibawa masuk, ribet memang tapi betul juga - kebayang
betapa repotnya kalau sekian ribu pasang sepatu dititipkan.
Kami perkirakan kapasitas gereja itu sekitar 5000 orang,
sebagian duduk lesehan dilantai didepan altar dan
sebagian lagi duduk di tribun berbentuk setengah lingkaran
dari bangunan besar tapi sederhana itu.

Saat kami datang sudah separuh gedung terisi, orang
terus berdatangan sampai gedung penuh sesak, malah
sebagian orang sampai terpaksa duduk di tangga tribun.

Tepat jam 22.00 Misa Natal dimulai, Romo Yohanes
sendiri yang memimpin Misa Kudus ini.
Acara berjalan lancar dan hikmat sampai jam 24.00.
Kami kemudian menuju pohon Natal besar dihalaman
yang belum dinyalakan lampunya, orang mengerumuni
sambil menyanyikan lagu2 Natal - setelah berkumpul
semua maka lampu pohon Natal dinyalakan dan
pengunjung memasang lilin Natal disekeliling pohon itu.

Mendekati pukul 01 malam barulah kendaraan kami
meninggalkan halaman komplek Lembah Karmel.
Memasuki lagi kota Cipanas, mendadak istri saya
nyeletuk, enaknya dingin2 gini nyari sekoteng nih.
Dicari sepanjang jalan mulai dari depan Pasar Cipanas,
barulah dapat tukang sekoteng yang tampilannya rada
lumayan dipinggir jalan dekat Restoran Sudi Mampir.

Asyik juga sih jadinya, dingin2 menjelang pagi itu duduk2
dipinggir jalan menikmati sekoteng yang panas mengepul
sambil mencoba meresapi denyut tenang kota wisata itu
yang tentunya tidak setiap waktu sempat kami rasakan.

Salam Damai untuk Semua.

Saturday, December 29, 2007

Nostalgia Selabintana.




Minggu pagi, 23 Desember 2007, jam 05.00 kami sudah
start meluncur dari Tangerang menuju Cipanas.
Rencananya akan menginap dua malam di Cipanas dan
mengikuti Misa Natal di Gereja Katolik Lembah Karmel.

Tentu jalan sepagi itu niatnya menghindari macet, maklum
kan sedang long week-end yang besar kemungkinan ada
kemacetan menghadang disekitar Mega Mendung-Cisarua.
Itupun masih harap-harap cemas, yaitu jangan-jangan
orang lain juga berfikiran sama, semua jalan pagi2 juga.

Ternyata perjalanan lancar banget, jam 06 sudah sampai
di lampu merah Ciawi, hanya ada dua buah mobil didepan
yang menunggu lampu merah, selepas itu juga sangat
lancar, 50 menit kemudian sudah tiba di Cipanas.
Bukan main leganya, istri saya bilang mungkin orang
Jakarta naiknya akhir tahun atau malah barangkali pergi
jalan-jalannya keluar negeri.

Setelah makan uduk gir-lan (pinggir jalan) favorit istri
disebrang Hotel Konengsari, kami meluncur ke Cianjur,
niatnya sekedar mengisi waktu saja karena di Cipanas
sepagi itu juga tidak tahu mau ngapain.

Setelah beli manisan Cianjur, bingung mau kemana lagi,
mau ke Bandung tidak jadi karena Nuke siangnya ada
acara - mau ngamen bersama paduan suaranya di BSM.
Akhirnya mengarah ke Sukabumi, diperjalanan nilpon
teman lama yang tinggal disana, dan setelah dapat
petunjuk arah memasuki kota jadilah menuju kota yang
sudah sekian puluh tahun tidak dikunjungi.

Jarak antara kedua kota ini hanya 27 Km, tapi sayang
aspal jalanan dibeberapa tempat kurang rata, terbersit
rasa aneh juga koq masih jadoel banget nih jalan -
dimana-mana jalanan sudah hotmix licin mulus ini koq
masih gerudugan kayak tahun 60-an.

Setelah makan siang, sesuai pengarahan kami parkir
di dekat restoran Ciwangi, lalu jalan kaki ke toko Madju,
disitu seperti keharusan wis-nu (wisatawan nusantara)
kalau ke Sukabumi : beli kue Moaci !.
Daerah itu down-town nya Sukabumi, toko sepanjang
jalan A.Yani banyak yang masih seperti puluhan tahun
yang lalu, jadi asyik juga lihat-lihat suasana jadoel itu.

Sudah kepalang jalan jauh, kini mobil diarahkan ke
Selabintana, rupanya istri saya mau nostalgia saat
tempo doeloe ramai2 kesana naik bus dengan teman2
merayakan kelulusan kami dari SMA di tahun 1968 -
waduh itu kan 40 tahun yang lalu !.
Perginya sih ramean sampai sa-bus penuh , tapi
sampai di Selabintana sih jalan-nya dua-an trus, he3.

Perjalanan mendaki mengarah kaki gunung Pangrango,
sempat belok kekiri tertarik ingin melihat perkebunan
teh Goalpara yang jaman dulu begitu terkenal.
Sesaat sebelum sampai di komplek perkebunan,
ada komplek villa dengan view cantik kearah lembah/
jurang dan gunung Pangrango.
Sayang sekali hanya sedikit villa yang dibangun dan
itupun sudah terlihat kusam terbengkalai.
Komplek perkebunan Goalpara ini rupanya banyak
diminati untuk camping, dan awal trekking Perbasari
bagi pendaki ke arah gunung Pangrango dan Gede.

Di tengah jalan menuju Selabintana, kami di stop
petugas Dipenda, harus bayar retribusi jalan masuk
kawasan pariwisata sebesar Rp.4000,-
Heran juga koq bayarnya harus di tengah jalan begitu,
mengapa tidak bareng saja saat bayar karcis masuk
di pintu masuk kawasan wisata Selabintana itu.

Kawasan Wisata Selabintana ternyata sudah banyak
berubah, kolam renangnya sih masih ada tapi rasanya
sudah berbeda sekali dengan yang puluhan tahun lalu
kami lihat.
Tadinya sih mau napak tilas - mau nyari tempat kami
duduk-duduk waktu itu - dipinggir kolam renang sambil
nyetel radio transistor, he3.

Didalam komplek yang rimbun dipenuhi pepohonan
besar-besar itu, ada beberapa rumah peninggalan
jaman Belanda yang masih terawat baik.

Tampaknya yang datang wisatawan lokal saja,
memang kalau orang Jakarta tentu males kesana,
karena harus menembus kemacetan Ciawi-Sukabumi.

Tapi kalau long weekend kearah Sukabumi itu bisa
dengan rencana perjalanan seperti ini :
Hari 1 : Jakarta - Puncak - Cipanas.
Hari 2 : Cipanas - Sukabumi/Selabintana - PelabuhanRatu.
Hari 3 : Pelabuhan Ratu - Cisolok - Bayah ( bisa lanjut ke
Cikotok atau pantai Sawarna) - Malingping, kalau
sempat mampir ke pantai Bagedur/Binuangeun -
Pandeglang - Jakarta.

Setelah jenuh dengan kemacetan Jakarta yang dikepung
gedung-gedung tinggi, tentu perjalanan kearah selatan
Jawa Barat-Banten yang ndeso bisa menjadi selingan
yang sungguh menyegarkan mata dan hati.




Wednesday, December 26, 2007

Ciismun dan Cibodas.




Tepat setahun yang lalu, dari tepian jurang kawasan
Wisata Agropolitan, saya melihat air terjun nun jauh
dibawah bukit tempat saya berdiri.
Disebrang, terpisah oleh jurang yang dalam, tampak
bukit dimana Kebun Raya Cibodas berada.
Lihat : Menemukan Agropolitan diatas Cipanas :
http://smulya.multiply.com/photos/album/157

Tentu tertarik sekali ingin bergabung dengan banyak
orang yang berada sekitar curug itu, mereka tampak
berupa titik2 kecil saking jauhnya dibawah, tapi saat
itu saya tidak tahu jalan menuju kesana.

Barulah pada Senin pagi, 24 Desember 2007, dalam
cuaca yang lumayan cerah kami berlima mencoba
kesana, awalnya melewati Istana Cipanas, kemudian
belok kiri persis sebelum komplek Pasar Cipanas.
Begitu belok langsung macet karena banyak angkot
nge-tem, selepas itu bertemu jalan lebar dan bagus.
Jalan terus menanjak, sekitar 3 kilometer kemudian
mengecil jadi pas seukuran dua mobil berpapasan.
Kini tanjakan makin curam dan dibeberapa tempat
ada tikungan maut, kalau pengemudi pemula rasanya
bisa "kena serangan jantung" membelok patah sambil
nanjak "tegak lurus" begitu.

Sempat nanya-nanya arah ke air terjun, akhirnya tiba
di sebuah jembatan dan tampak ada gerbang tertutup.
Itulah gerbang belakang Kebun Raya Cibodas, salah
satu dari tiga gerbang Kebun Raya itu.
Setelah bayar tiket masuk, mobil diparkir ditempat
yang aman, kami berlima mempersiapkan diri untuk
jalan kaki sekitar 1 kilometer menuju curug Ciismun.
Penjelasan yang didapat, curug memang betul diapit
bukit Agropolitan dan bukit Cibodas, sudah dibuatkan
jalan setapak beralaskan batu kali, dan aman karena
tidak pernah terjadi banjir bandang.
Ini penting sekali, karena biasanya berjalan menuju
air terjun, berarti berjalan ditepi atau malah ditengah
sungai kecil yang dangkal berbatu.
Aliran sungai biasanya diapit tebing yang menjulang
tinggi - kalau sedang berjalan disana terjadi air bah,
akan sulit menyelamatkan diri.

Perjalanan kini menelusuri tepian sungai kecil -
asyik sekali berjalan sambil ditemani suara gemuruh
air sungai yang melewati bebatuan sungai kecil
dangkal itu. Hanya kami saja yang menelusuri jalan
itu, rupanya jarang ada yang masuk dari gerbang
belakang, kebanyakan pengunjung langsung turun
dari arah bukit Kebun Raya Cibodas.
Jalan terus menanjak, tapi tidak parah dan karena
kami jalan santai saja maka tidak sampai ngos2an.
Pemandangan kiri kanan lereng bukit terjal penuh
pepohonan, sempat khawatir juga melihat tebing
sebelah kiri (Agropolitan) yang terjal sekali -
khawatir terjadi longsoran.

Akhirnya sekitar 20 menit berjalan tampak dikejauhan
air terjun yang tingginya sekitar 25 meter, airnya yang
cantik keperakan terjun dari sudut pertemuan bukit
Agropolitan dengan bukit Cibodas.
Jadi kedua bukit yang tadinya terpisah oleh jurang
kini menyatu membuat jalan buntu - disitulah lokasi
air terjun Ciismun.
Mendekati curug itu tentu makin sulit karena harus
dengan hati-hati melangkah diatas bebatuan sungai
dangkal, barulah bisa mendekat ke kaki air terjun
selebar sekitar 5 meter itu.

Ada sekitar setengah jam kami melepas lelah sambil
menikmati pemandangan cantik itu, uap air sesekali
terbawa angin mengenai kami, segar rasanya.
Nun jauh diatas tebing tampak sedikit ujung atap dari
kupel rumah kecil yang ada diatas bukit Agropolitan-
dari situlah tahun lalu saya memandang kebawah.

Tak lama berdatanganlah pengunjung lain, suasana
jadi riang karena mereka ramai berfoto-ria.
Saat perjalanan pulang, turun hujan lumayan lebat,
untunglah bawa payung karena sepanjang jalan itu
tidak ada tempat meneduh.

Saat kembali kedalam mobil, teringat sekalian saja
masuk ke Kebun Raya - mumpung sudah sampai
dan boleh berkendara, kalau jalan kaki kan dengkul
bisa copot di kawasan begitu luas dan naik turun.

Ternyata diperbolehkan, maka kami kelilingi Kebun
Raya yang luas sekali itu.
Hujan turun lumayan lebat, kami sempat kehilangan
arah, nyasar masuk jalan kecil ke arah Wisma, tapi
malah jadi kebetulan karena ternyata disitulah lokasi
Bunga Bangkai (Amorphophallus titanum).
Bunga Bangkai ini didapat dari eksplorasi di Danau
Gunung Tujuh Taman Nasional Kerinci Seblat, Jambi.
Tanaman ini diambil tanggal 9 Juni 2000 pada
ketinggian 1450 meter, awalnya ditanam pertama kali
dalam bentuk umbi di Cibodas pada 26 Juni 2000.

Kabarnya tahun 2004 pernah mekar penuh sampai
setinggi 3,17 meter - ini memecahkan rekor dunia
dalam hal tinggi bunga !.

Saya lihat bunga itu kini sekitar 1,5 meter tingginya
dan belum mekar, lokasinya didalam halaman dari
komplek Taman Lumut Cibodas yang memiliki
sampai 216 jenis lumut dari berbagai sudut Indonesia
dan dunia. Dengan luas 2500 meter persegi, taman
ini diklaim sebagai satu-satunya taman lumut di
dunia yang terletak di luar ruangan dan memiliki
koleksi terbanyak. Sayang sekali saat itu hujan
lebat dan pagarnya juga terkunci, maka kami
hanya bisa lihat-lihat dari luar pagarnya saja.

Kalau dimasa lalu kami hanya sampai di tengah
Kebun Raya yang ada lapangan rumput, kini bisa
berkendara sampai ke pojok paling belakang.

Di satu tempat ketemu Sakura Garden - konon
ditempat inilah sedang diupayakan menanam
pohon bunga Sakura.
Dekat Sakura Garden ada air terjun Cibogo, kecil
saja tapi unik karena air sungainya menyebrang
jalan aspal, jadi mobil "berenang" melewatinya.

Memang sebaiknya berkunjung ke Kebun Raya ini
pada hari kerja karena boleh masuk pakai mobil.
Kalau hari Minggu/Libur selain terlalu ramai juga
harus jalan kaki - bisa loyo mengelilingi kawasan
seluas 125 hektare ini, sayang kalau tidak melihat
keseluruhan kawasan Kebun Raya yang indah itu.

Sunday, December 16, 2007

Jalan-bareng ke Kelenteng Tanjung Kait.




Minggu 16 Desember 2007, sejak pagi buta hujan turun -
memang tidak terlalu lebat, tapi "melit" nggak stop-stop.
Pusing juga jadinya, karena rencananya pagi itu akan
jalan bareng ke Tanjung Kait bersama teman2 - baik itu
teman lama, Jalansutra maupun teman Multiply.

Rencananya mulai jam 8 pagi sudah mulai ketemuan,
parkir di jalan pinggir kali dekat Pasar Lama Tangerang,
untuk cari makan pagi atau beli aneka kue-kue khas
Tangerang, dan jam 9.30 meluncur ke Mauk.

Akhirnya jam 6.30 saya SMS ke semua teman bahwa
agar dipertimbangkan dalam cuaca seperti ini akan
sulit jalan didaerah Pasar Lama, sebaiknya cari makan
pagi di tempat lain, kalau start ke Mauk tetap jam 9.30.

SMS balasan berdatangan, ada yang batal karena anak
sakit, ada yang karena perumahan nya ada genangan air,
tapi ada juga yang "ngotot" tetap mau selusupan nyari
makan pagi di Pasar Lama yang tentunya becek sekali.

Malah ada yang jam 7.30 sudah nilpon bahwa sedang
memasuki kota Tangerang, sehingga saya gelagapan
juga buru-buru menuju Pasar Lama untuk menyambut
dan memberikan peta lokasi aneka makanan di Pasar
Lama, sekaligus peta perjalanan menuju TanjungKait.

Ternyata hujan mereda, sehingga teman2 yang mulai
berdatangan bisa dengan santai berjalan kaki menuju
Pasar Lama, belanja aneka makanan sampai jam 9.30.

Tepat waktu iring2an 14 buah mobil bergerak mengarah
ke Mauk, perjalanan cukup lancar hanya tersendat
saat melewati pasar Sepatan yang pagi itu ternyata
belum bebas sepenuhnya dari kemacetan rutin.
Perjalanan sepanjang jalan menyegarkan mata karena
hampir sepanjang jalan terlihat hamparan sawah yang
luas menghijau asri sekali.

Persis jam 10.30, kami memasuki kota kecil Mauk
dan mampir dirumah Bapak Halim yang besar.
Jadi ceritanya, minggu lalu saya menilpon beliau untuk
menanyakan situasi jalan kesana, eh malah "dipaksa"
mampir untuk menikmati es kelapa puan/kopyor.
Tentu saya "menolak" antara lain bilang bahwa saya
nanti perginya berombongan - mungkin 30-an orang,
eh malah ditantang - mau 50 orang juga boleh katanya.

Ternyata memang kami berjumlah 50 orang, setelah
parkir dihalaman, disambut beliau dengan ramah dan
dipersilahkan memasuki rumahnya untuk beristirahat.

Setelah menikmati es kelapa puan itu, ternyata diberi
kejutan yaitu munculnya Kelapa Lilin berupa kolak,
tentu makanan unik dan langka ini setelah ramai2
dipotreti langsung tandas diserbu ramai-ramai.
Rupanya bu Halim kurang puas dalam "ngerjain" kami,
keluarlah minuman yang bikin semua jadi terpesona :
Es buah Kawista, yang terasa segar dan eksotis.

Hebatnya semua buah2an itu dipetik dari kebun pribadi,
khusus Kelapa Lilin kami dapat pencerahan dari beliau
bahwa kelapa ini pohonnya tidak beda dengan pohon
kelapa yang biasa, tapi buahnya sesekali saja ada
yang "nyeleneh" berubah menjadi Kelapa Lilin yang
dagingnya legit gurih itu.

Perjalanan berikut tinggal 6 kilometer lagi dan kini
di kiri jalan mulai terlihat tambak ikan dan laut.
Ternyata Radar TNI AU di pantai TanjungKait masih
berfungsi, dari kejauhan terlihat radar yang bertengger
diatas sebuah bangunan itu masih berputar-putar.

Kelenteng Tjo Soe Kong Tanjung Kait masih bagus
kondisinya seperti saya lihat belasan tahun yang lalu,
pengunjung ramai tapi tidak sampai membludak.
Karena acara puncak ulang tahunnya adalah pada
malam Minggu kemarin, kabarnya semalam itu
pengunjung sudah berjejal antri mulai pagar komplek.

Kami sepakat bahwa pulangnya masing-masing,
karena terserah apakah ada yang mau nonton lomba
barongsay, main ke pantai atau belanja2 aneka
makanan hasil laut yang diasinkan dll.

Sendirian saya menuju pantai yang hanya sekitar
250 meter, melewati rumah penduduk yang sangat
sederhana dengan dinding gedek dan atap rumbia.
Banyak terdapat perahu nelayan di pantai laut yang
airnya bukan biru tapi coklat keruh, dan banyak
juga perahu yang sudah dalam kondisi rusak.
Sempat saya tanyakan ke seorang nelayan tentang
air pasang, ternyata fenomena itu tidak terjadi disitu,
aneh sekali padahal tidak terlalu jauh dari Jakarta.

Saya teruskan berjalan selusup-selusup diantara
rumah penduduk mengarah ke barat dan sampai
di bekas dermaga yang dulu digunakan perahu wisata
menuju Pulau Laki dilepas pantai Tanjung Kait.
Dermaga sudah rusak, dan sekeliling nya kini malah
dipenuhi rumah makan sea food yang menjorok kelaut.

Sedianya saya mau mencoba mengunjungi komplek
Radar TNI AU, yang sudah ada sejak jaman Dwikora.
Dulu terlarang memasuki komplek militer itu, kabarnya
sekarang ada kemungkinan diperbolehkan masuk.
Sayang sudah terlalu siang, maka saya putuskan
kembali saja ke komplek kelenteng.

Perjalanan pulang juga lancar, kebetulan saya kali
ini tidak nyetir maka bisa menikmati pemandangan
persawahan kiri kanan jalan yang hijau menyegarkan
mata - jadi terkenang puluhan tahun lalu pemandangan
juga masih sama seperti itu, nostalgik sekali dan
mudah2an pemandangan cantik ini bisa masih tetap
bisa dilihat di masa mendatang.

Thursday, December 13, 2007

Nonton acara Shejit Kelenteng TjoSoeKong TanjungKait,Mauk - Tangerang

Start:     Dec 16, '07 08:00a
Location:     Tangerang-Mauk-TanjungKait
Sebuah spanduk yg terpasang ditengah kota Tangerang
menarik perhatian saya - memberitakan berlangsungnya
perayaan Shejit (ulang tahun) Kelenteng Tjo Soe Kong
di Tanjung Kait, 14 - 16 Desember 2007.

Kelenteng dekat tepi pantai ini dibangun pada abad 17,
awalnya hanya bangunan kecil yang kurang terawat.
Tapi sekitar tahun 1970 menjadi beken sekali, banyak
peziarah berdatangan apalagi saat malam "Ce-It" atau
"Cap-Go/malam bulan purnama".
Kalau kita malam itu ke TanjungKait, jangan harap bisa
parkir dihalaman kelenteng, sekian kilometer kendaraan
sudah tidak bisa bergerak, biasanya orang tidak sabar-
turun dari bus dan jalan kaki ramai2 menuju kelenteng
yang berkembang menjadi satu komplek cukup besar.

Tapi pamor nya kembali meredup, menjadi sunyi sepi
kembali - seakan kompak dengan komplek bangunan
Radar kuno peninggalan jaman konfrontasi Dwikora
yang berada tak jauh dari kelenteng.

Saya telah mencari informasi lebih lanjut ke panitia
Shejit itu, katanya perayaan shejit selama tiga hari itu
akan diramaikan dengan berbagai atraksi, antara lain:

- Festival Barongsai
- Bazaar Rakyat
- Gambang Keromong/Lenong
- Wayang Potehi
- Wayang Kulit.

Pada hari terakhir - Minggu tanggal 16 Desember
akan ada final lomba Barongsay, dan pertunjukan
Wayang Potehi yang sudah langka.
Dihalaman depan kelenteng seperti biasa akan ada
tenda2 warung makan sea-food, dan juga para penjual
makanan hasil laut yang dikeringkan seperti ikan asin,
cumi asin, terasi dll.

Diinformasikan pula bahwa jalan aspal dari Tangerang -
Mauk sampai ke halaman kelenteng (27 Km) dalam
kondisi bagus, tempat parkir luas dan aman.

Minggu pagi, 16 Desember 07, dengan beberapa
orang teman/keluarga, saya berencana kesana.

Ada yang mau jalan bareng ?, kalau ada -
ini rencananya :

- jam 8.00 : kendaraan anda parkir di meeting point,
yaitu di tepi sungai Cisadane dekat Pasar Lama ,
nanti dibagikan peta petunjuk titik2 lokasi tukang
jualan makanan yg ada di areal Pasar Lama itu,
semua jalan sendiri2 cari makanan2 yang disukai.

untuk makan pagi : bisa beli nasi ulam/nasi kuning,
mie ayam Pasar Lama, baso pak Gino dll,
atau belanja : kue doko/cerorot/selimut bujang/pepe/
ketan tetel/putu mayang, opak bakar karamel dll,
asinan Lan Jin, otak2 si Amoy, swie kiauw, sampai
emping jengkol juga ada,
minumnya bisa es cincau hijau, atau buah lontar,
kalau lagi hokkie bisa bawa pulang getah nipah.

- jam 9.30 : start, melewati Jalan Otista -Cadas-
Sepatan - Mauk - Tanjung Kait, jalan aspal bagus,
perjalanan sekitar 1 jam.

- 10.30 tiba di tempat parkir kelenteng, kalau bisa
diupayakan disambut dan diantar oleh panitia -
berkeliling lihat2 bagian dalam kelenteng.

setelah itu acara bebas, masing2 sesukanya boleh :
nonton final barongsay/pertunjukan wayang potehi,
jalan ke pantai sekitar 200 meter, nyari kelapa muda/
kopyor/ kelapa lilin, lihat radar peninggalan Dwikora,
belanja ikan asin/cumi asin/kerupuk udang dll.
makan siang di tenda warung makan sea food, atau
buka bekal makanan yang dibeli di Pasar Lama.

- jam 13.00 - kumpul lagi dan berangkat pulang.

- jam 14.00 : tiba kembali di Tangerang.

catatan :
- pertanyaan/saran harap ke : smulya@cbn.net.id

salam
sindhiarta - tangerang

Tuesday, December 11, 2007

Terdampar ke abad pertengahan didalam Labyrinth Medina, Fez.




Mendengar nama Fez atau Fes, mungkin tidak banyak orang
yang tahu dimana letaknya, padahal kota ketiga terbesar di
Maroko ini (setelah Casablanca dan Rabat) konon pada kurun
waktu tahun 1170 - 1180 adalah kota terbesar didunia, saat itu
menjadi ibukota Kerajaan Fez.

Kota kuno ini dibangun oleh Raja Idris I pada tahun 789, dan
diteruskan oleh putranya - Idris II pada 810, kini merupakan
salah satu dari empat "imperial cities" di Maroko, selain
Marrakesh, Meknes dan Rabat.

Kota kuno ini terdiri tiga bagian, Fes el Bali (The Old, Walled City),
Fes-Jdid (New Fes, Home of the Mellah)-bagian orang Yahudi, dan
The Ville Nouvelle (the French-created, Newest Section of Fes).

Fes kabarnya kota kerajaan yang paling menarik dan paling indah
di Maroko, dimana walaupun sebagian besar terlihat tradisional,
tapi juga ada bagian modern-nya yaitu Ville Nouvelle or "New City",
yang menjadi commercial center.

Yang paling menarik bagi para turis adalah Medina di Fes al Bali,
ini adalah wilayah pemukiman bebas kendaraan bermotor terbesar
didunia, dan masuk list Unesco's World Heritage sejak tahun 1981
karena 13,380 historic buildings didalamnya masih utuh sekali.


Pagi hari, 16 Nopember 2004, kami meninggalkan Sheraton Hotel
yang berada di wilayah Ville Nouvelle, langsung memasuki jalan
utama kota Fez yang anggun.
Jalan itu lebar, kiri kanan-nya dipagari pepohonan, dan gedung-
gedung megah/antik berderet sepanjang jalan yang nantinya akan
mentok ke halaman depan yang luas dari Royal Palace.
Inilah Champ Elysee-nya kota Fez kata Ahmed, Local Guide kami.

Dijaman lampau pernah orang Yahudi yang terancam jiwanya
minta perlindungan kepada raja Maroko, dikabulkan dan diberikan
tempat bermukim tidak jauh dari istana Raja, sekarang masih ada
dan disebut Fes-Jdid atau Jewish Section itu.
Lokasinya memang berdekatan sekali dengan Royal Palace.
Setelah mengunjungi istana itu - tepatnya sih mengunjungi
gerbang istana karena tidak ada istana di Maroko yang boleh
dimasuki turis - kami cuma bisa motret2 didepan gerbang,
maka dengan menyebrang jalan saja kami sudah berada
di Jewish Section itu.

Diawali mengunjungi Gate dari sepenggal sisa benteng kuno,
kemudian berjalan kaki memasuki kota tua dimana terdapat
banyak rumah kuno milik orang Yahudi itu.
Waktu seakan mundur ke abad 14, gedung-gedung tua yang
masih terawat baik berdesakan sepanjang lorong-lorong kecil
yang bersimpangan satu sama lain.
Keturunan orang Yahudi tentu banyak didaerah itu, cuma
kami tidak bisa membedakan mana orang Yahudi dan mana
orang Maroko asli.

Sempat juga kami tanyakan ke Ahmed, kenapa selama di
Maroko yang berada di benua Afrika ini kami tidak melihat
satupun orang berkulit hitam, dijawab bahwa orang kulit
hitam adanya di beberapa wilayah gurun yang terletak jauh
di bagian selatan Maroko.
Sampai nantinya kami meninggalkan Maroko, hanya orang
yang seperti Ahmed itu yang kami lihat - berkulit agak putih
bersih, berhidung agak mancung, perawakan sedang dan
berambut hitam.

Berikutnya adalah tujuan utama hari itu yaitu memasuki
Labyrinth yang legendaris, yang terletak didalam Medina/
Old City dari Fez. Kota perdagangan kuno dari abad 9 itu
telah berkembang menjadi kawasan yang bukan saja luas
juga super padat.
Jalan-jalan kecil didalamnya, begitu banyak dan begitu
simpang siur, sehingga bisa menyesatkan orang yang
tak terbiasa memasukinya. Karena rumitnya itulah maka
kawasan ini dijuluki Labyrinth.

Sebelum memasukinya, kami diajak keatas sebuah bukit
dimana bisa mendapatkan pemandangan lepas kearah
keseluruhan Medina. Tampak dikejauhan lembah yang
dikelilingi pebukitan terisi begitu banyak rumah berlantai
dua-tiga yang mempunyai banyak jendela.
Dinding rumah berwarna seragam putih kecoklatan
dengan antena parabola bertengger diatasnya.
Kabarnya ukuran Medina sekitar 2400 kali 1600 meter,
luasnya 300 hektar.

Rumah-rumah yang berjejalan penuh sesak itu menjadi
sebuah kota tanpa ada satupun jalan raya didalamnya.
Memang memasuki Labirynth Medina, harus berjalan kaki.
Sejak abad 9 sampai kini, kendaraan yang boleh masuk
hanyalah unta/keledai, jalannya sempit sekali selebar
hanya satu sampai tiga meter saja, malah ada yang
hanya selebar 60 sentimeter.

Kebetulan sekali, persis saat kami memasuki gerbang
Labyrinth, ada seekor keledai sedang dituntun keluar
dari jalan kecil tapi ramai itu, langsung saja kami serasa
tersedot mesin waktu mundur ke abad 9.

Holden, Tour Leader dari Jade Tour "mengancam" kami :
Awas!, jangan mata keranjang ya!, jangan belanja sendirian!.
Pokoknya jangan sekali-kali sampai terpisah dari rombongan!.

Jadi kami tidak boleh nyelonong sendirian mampir ke
toko-toko yang banyak terdapat sepanjang jalan kecil/
lorong-lorong itu.
Sepanjang jalan kuno yang sempit beralas bebatuan itu
banyak sekali toko kecil-kecil yang menjual begitu
beragamnya barang, baik makanan/minuman, pakaian,
souvenir yang memang membuat kami jadi ngiler banget
pengen mampir sebentar.
Kabarnya terdapat sampai 10,539 buah toko2 kecil disitu.

Berjalan dijalan sempit beriringan dan berpapasan dengan
begitu banyak orang cukup mendebarkan hati.
Kami melihat begitu banyaknya persimpangan jalan,
apalagi perjalanan kami tidak lurus saja tapi belok-belok
menyimpang kesana kemari.
Pokoknya betul-betul kami kehilangan orientasi arah,
tidak tahu lagi dimana arah awal perjalanan kami tadi.
Kalau sampai terpisah, rasanya jadilah mesti cari pak
Lurah setempat untuk bikin KTP baru disitu.

Didalam kawasan yang sungguh luas itu, walaupun tampak
sudah begitu tua dan kusam tapi gedung-gedungnya masih
utuh sekali seperti keadaannya sekian abad yang lalu itu.
Kami melihat gedung kuno bekas tempat menginap para
pedagang dari Mali, Senegal, Sudan dan lain-lain.
Dijaman itu mereka menginap dilantai dua dari gedung yang
dipakai sebagai pasar kuno. Kendaraannya, yaitu unta atau
keledai dahulu ditambat dihalaman tengah rumah itu.

Bangunan kuno/bersejarah semua masih bagus kondisinya,
antara lain Mesjid Najjerine yang tempat ambil air wudhunya
cantik dan antik sekali.
Mesjid Qaraquiyine yang kelihatan kuno sekali, dibangun
pada tahun 859 yaitu pada masa pemerintahan Yahya ibn
Muhammad. Mesjid ini adalah salah satu mesjid tertua
dan terbesar di Africa.

Sungguh meninggalkan kesan yang unik dan mendalam,
berada disitu kita merasa terdampar muncul bergabung
dikeramaian tengah kota masa lampau.


Tuesday, December 4, 2007

Shrine of Our Lady of Montserrat.




Montserrat di wilayah Catalonia Spain, adalah pegunungan
batu seluas sekitar 25 km2, dengan puncak tertinggi
1235 meter dpl, yang sangat unik dan cantik.
Gunung batu ini puncak2nya menjulang tinggi runcing-runcing -
seakan bergerigi, lerengnya curam membentuk jurang yang dalam.
Disinilah menurut legenda, beberapa anak penggembala melihat
sinar terang turun dari langit diatas pegunungan Montserrat itu,
dan terdengar bidadari menyanyikan lagu yang menyejukkan hati.
Belakangan orang tua mereka juga mengalami hal serupa.
Pada lokasi itu, didalam sebuah gua ditemukanlah patung Bunda
Maria. Sejak itulah Santa Cova/Holy Grotto menjadi tujuan utama
para peziarah Katolik dari seluruh dunia.

Dikisahkan bahwa patung Bunda Maria itu dipahat pada tahun
30 AD oleh Santo Lukas, dan dibawa ke Spain oleh Santo Peter.
Saat terjadi serangan bangsa Moor tahun 717, disembunyikan
di salah satu gua di Montserrat dan baru ditemukan lagi pada
tahun 880 oleh seorang Uskup.
Awalnya Uskup dari Manresa yang menemukannya, berniat
akan memindahkannya ke kota Manresa, tapi patung kecil itu
menjadi begitu berat-nya sehingga tidak bisa diangkat, maka
rencana pemindahan dibatalkan - tetap berada di Montserrat.

Sejak itulah dibangun kapel dan komplek biarawati disekeliling
kapel, dan belakangan dibangun biara untuk ordo Benedictine.
Komplek biara di ketinggian 700 meter itu makin berkembang,
tapi saat pecah perang tahun 1808-1814 pasukan Napoleon
menghancurkan monastery abad pertengahan itu.
Barulah pada tahun 1858, monastery dibangun kembali.

Pagi hari Nopember 2004, bus kami meninggalkan Barcelona,
mengarah ke Monserrat, waktu kami sempit karena sorenya
akan terbang kembali ke Jakarta via Paris.
Hari itu adalah hari terakhir rangkaian perjalanan mengunjungi
Maroko - Portugal dan Spain.

Berkendara sejauh 56 kilometer lancar sekali, awalnya melalui
highway dan sekitar 15 kilometer terakhir melewati jalan kecil
yang mengarah ke pegunungan Montserrat.
Saat bus berjalan ber-belok2 pelan sepanjang pegunungan
yang berkabut tipis, kami disuguhi pemandangan yang unik
dan cantik sekali karena bentuk unik berbagai lereng dan
puncak gunung yang runcing2.

Tempat parkir bus masih agak jauh dari Monastery, maka
kami harus berjalan kaki diudara yang dingin, tapi tidak jadi
masalah karena justru kami jadi lebih bisa menikmati
indahnya pemandangan dikiri kanan jalan.
Kalau dikiri kami terlihat pemandangan lepas kearah dataran
nun jauh dibawah maka dikanan terdapat bangunan2 besar
kokoh dengan latar belakang puncak dan dinding batu yang
bentuknya runcing-runcing itu.

Memasuki komplek Monastery, yang saat itu masih sepi
karena masih agak pagi, kami segera menuju Basilica
berukuran 60 X 30 meter.
Didalam Basilica bergaya Gothic yang dibangun antara
tahun 1559-1592 inilah terdapat patung Black Madonna
yang disebut pula sebagai Madonna of Monserrat atau
La Moreneta (istilah Spanyol), atau Black Virgin.
Didalam bangunan kuno yqng besar itu, kami harus naik
tangga sempit yang agak curam, untunglah cuma ada
rombongan kami saja jadi tidak sampai berdesakan.

Setiba diatas tampaklah Black Madonna yang menjadi
tujuan utama para peziarah, wooden polychromic statue
buatan abad 12 bergaya Rumania ini menggambarkan
Bunda Maria sedang duduk diatas singgasana sambil
memangku Jesus kecil, dengan latar belakang retablo
penuh ukiran yang cantik sekali.
Tangan kanan Bunda Maria memegang sebuah bola
kecil berwarna coklat, dan pada tahun 1881 dalam
perayaan yang hikmad patung Bunda Maria dimahkotai
oleh Paus Leo XIII.

Tinggi patung sekitar satu meteran, berwarna keemasan,
sedangkan muka Bunda Maria/Jesus berwarna hitam -
ini karena perubahan warna pernis yang melapisinya.
Keseluruhan patung ditutupi kaca bening, kecuali bagian
bola tangan dipegang Bunda Maria.
Para peziarah bergiliran berdoa disana sambil mengusap
bola itu, tentu tidak bisa lama-lama karena dibelakang
sudah ada banyak orang menunggu giliran ditempat
yang agak sempit itu.

Sebenarnya didalam Basilica itu ada atraksi yang sangat
memukau, yaitu paduan suara dari 50 orang anak laki2
yang luar biasa merdunya, kabarnya mereka sudah
membuat lebih dari 100 album lagu.
Mereka bernyanyi mulai jam 13, setiap hari kecuali saat
liburan Natal/selama bulan Juli/ ada perayaan lainnya,
Pertunjukan ini gratis, dan sudah berlangsung sejak abad
ke 13 , antara lain menyanyikan lagu "Salve Regina"
dan the "Virolai" (Hymn of Montserrat).

Sayang sekali kami tidak bisa menunggu sampai siang,
dan juga sayang sekali tidak berkesempatan naik cable-
car mengunjungi Santa Cova atau Holy Grotto -
didalam gua yang berbentuk salib itulah terdapat patung
Bunda Maria yang dibuat oleh Santo Lukas.

Tapi masih beruntung kedatangan kami tepat waktu,
karena kalau datang saat hari Minggu atau ada perayaan
maka dipastikan daerah Monserrat itu macet parah -
penuh sesak dengan peziarah.

Setelah berjalan kaki kembali menuju tempat parkir bus,
kami kembali ke Barcelona dan terbang ke Paris-Jakarta.

Catatan :

Names: Montserrat; Shrine of Our Lady of Montserrat.
Type of site: Catholic shrine; Christian monastery
Address: 08199 Montserrat (Barcelona), Catalonia, Spain
Location: 56km (35 mi) NW of Barcelona,
592km (368 mi) E of Madrid
Phone: 093-877-77-01
Website: www.abadiamontserrat.net
E-mail: informacio@larsa-montserrat.com
Hours: Basilica: Daily 8-10:30am, noon-6:30pm
Santa Cova: Apr-Oct, daily 11:20-5:30pm;
off-season daily 11:20-5:20pm
Cost: Free

When to go: Montserrat is most crowded on Sundays,
as many locals flock to the site on that day.
The Feast of the Virgin of Montserrat is April 27,
with the Vigil the day before.
The vigil is especially popular with young people,
who gather at the shrine for music, special readings,
and Mass.
Tip: Dress warmly; the wind is cold even in the summer.