Tuesday, February 21, 2006

Memasuki The Third Infiltration Tunnel - Incheon South Korea.






Perang Korea yang terhenti pada tahun 1953, sebetulnya sampai
sekarang secara resmi belumlah berakhir karena tidak pernah
ada dibuat kesepakatan damai.
Yang ada hanyalah kesepakatan membentuk Demiliterized Zone/DMZ,
yang membentang sejauh 248 kilometer membelah Korean Peninsula.
Lebarnya empat kilometer dengan masing-masing dua kilometer dari
truce line.

Karena resminya perang belum usai maka jadilah DMZ ini:
The most fortified border on earth that only Korea can offer !!

Tetapi walau sudah dijaga luarbiasa ketat oleh tentara Korea Selatan
bersama tentara Amerika, ternyata fihak Korea Utara tetap saja
diam-diam berupaya menerobos DMZ.
Selain upaya infiltrasi kecil2-an dengan mengirimkan mata-mata,
juga dengan membuat setidaknya empat terowongan bawah tanah.
Bisa dibayangkan betapa kuatnya niat Korut untuk menginvasi
Korsel saat itu.

Salah satunya yang dipergoki fihak Korsel pada 17 Oktober 1978,
ternyata adanya 73 meter dibawah permukaan tanah !!
Panjangnya 1635 meter, lebar 2 meter dan tinggi 2 meter, yang
cukup leluasa bagi 10.000 tentara Korut bersenjata lengkap
melewatinya hanya dalam waktu satu jam saja, dan melakukan
surprise attack terhadap Seoul yang hanya berjarak 52 kilometer
dari ujung tunnel tersebut.
Tunnel yang kini disebut The Third Infiltration Tunnel itu adalah
terowongan terbesar yang pernah ditemukan.

Kunjungan ke The Third Infiltration Tunnel dan DMZ itulah yang
selama ini saya idam2kan, dan kesempatan itu akhirnya datang
pada hari Jumat tanggal 11 Nopember 2005.

Malam Jumat sekitar jam 19.00 rombongan kami yang berempat-
belas orang check-in di Hotel Ellui Seoul.
Sebelum dipersilahkan masuk kamar hotel, pimpinan rombongan
wanti2 berpesan agar besok pagi tidak saja jangan lupa bawa paspor,
juga semua harus on time karena rombongan kami yang di-schedule
memasuki DMZ jam 10 pagi , tidak boleh telat sedikitpun.

Untuk itu Morning call ditentukan jam 6 pagi -
waduh, semua teman mengeluh - ini kan sama aja jam 4 pagi WIB.
Mulailah terasa tegang, maklum esok itu kan selain akan berkunjung
ke tempat yang begitu saya idam2kan juga tempat yang seram.
Kami tidak saja akan melihat wilayah Korea Utara dari kejauhan,
juga akan amblas bumi 73 meter kedalam Third Tunnel.


Bus kami meninggalkan hotel Ellui Seoul jam 8 pagi, dan langsung
ikutan "pamer" - padat merayap.
Suatu saat bus memasuki sebuah terowongan sepanjang 1600 meter
yang lebar - bisa 3 kendaraan berjejer, tapi bus jalannya seperti orang
jalan kaki saja, sehingga sempat teringat kejadian tragis kebakaran
didalam terowongan di Swiss yang menewaskan banyak orang.
Terasa lama sekali bus melewati terowongan itu, dan baru saja terasa
lega karena sudah keluar mulut terowongan , eh tidak jauh sudah
kelihatan awal terowongan berikutnya :
HongJimun Tunnel, tertulis panjangnya1890 meter - aiyaaa !

Setelah lepas dari kemacetan,
barulah bus ngebut dengan kecepatan 80-90 km/jam kearah Incheon.
Karena tiba di terminal bus-khusus 20 menit lebih awal dari waktu
yang ditentukan, maka masih ada waktu untuk mengunjungi sebuah
Memorial Altar, yang berbentuk tonggak granit yang dilatar belakangi
tujuh buah papan granit. (foto)
Tonggak itu melambangkan harapan bisa terciptanya re-unifikasi,
sedangkan tujuh papan itu melambangkan lima propinsi yang berada
di Korea Utara dan dua wilayah lain.
Memorial altar itu hanya beberapa meter saja dari dua lapis pagar
kawat berduri yang merupakan batas akhir dari orang sipil bisa
mendekat kearah DMZ.

Perang Korea membuat jutaan orang Korea terpisah dari tanah
kelahirannya, dimana antara lain ada makam keluarga -
mereka tentu sekarang tidak bisa saling mengunjungi lagi.
Maka saat Chusok Day, orang Korea bersembahyang didepan
Memorial Altar, untuk arwah keluarga yang makamnya nun jauh
terpisah disebrang DMZ sana.

Setelah habis2an mengosongkan "tanki bensin" di toilet yang bersih,
rombongan kami ber-empatbelas orang ini kemudian dipersilahkan
memasuki bus khusus dan bergabung dengan belasan turis Jepang,
dan tepat jam 10 bus berangkat menuju wilayah yang dijaga militer.

Tidak lama bus sudah mendekati pos penjagaan MP (Military Police)
Korean Army, bus di stop dan naiklah seorang MP yang masih muda
dan jangkung.
Semua penumpang tetap duduk didalam bus sambil memegang paspor,
dan tentara itu dengan sangat teliti mencocokkan satu persatu nama
dalam daftar peserta tour dengan paspor.
Selesai memeriksa semua paspor si MP turun bus, tapi tunggu punya
tunggu sekian lama bus tetap saja diam tidak bergerak.

Di depan pos MP itu banyak MP bersenjata, yang sibuk memeriksa
kendaraan2 militer yang lalu lalang.
Dikiri kanan terlihat dua lapis pagar berduri, di depan ada papan
bertuliskan : Tongil Bridge.
Saya berusaha keras menahan keinginan untuk memotret -
kami sudah di-wanti2 untuk jangan sekali2 memotret mereka,
sangat dilarang.

Ada sekitar 20 menit kami duduk menunggu dalam ketegangan,
dan akhirnya semua lega karena bus mulai bergerak lagi.
Sekarang kami memasuki jembatan sungai Imjin yang lebar sekali
sampai 6 lane, tapi penuh barikade yang membuat bus harus
berjalan zig-zag.

Selepas jembatan, bus mengarah kekiri memasuki jalan kecil dan
mulai mendaki Dora Mountain yang dikiri kanan jalan dipasangi
petunjuk bahwa kawasan disitu adalah lapangan ranjau.

Setiba di puncak kami semua turun, dan memasuki Dora Observatory -
sebuah gedung yang dicat belang-belang kamuflase militer.(foto)
Gedung itu seakan sebuah stadion mini yang satu sisinya terbuka
mengarah ke wilayah Korea Utara.
Disini merupakan titik paling utara dari wilayah Korsel dimana
penduduk sipil bisa melihat wilayah Korut dalam jarak begitu dekatnya.
Sekelompok turis tampak sedang duduk memandang ke dataran rendah
milik Korea Utara nun jauh dibawah yang dilatar belakangi pegunungan,
sambil mendengarkan penjelasan dari seorang MP yang berdiri didepan.

Saya mulai angkat kamera mau mengabadikan pemandangan indah itu,
tapi langsung diteriaki si MP .
Oh nggak boleh !!??
Wuah, gimana sih - tadi si guide bilang hanya handycam yang tidak
boleh dipergunakan, bikin kaget aja.
Diluar gedung pun tetap tidak boleh memotret kearah Korea Utara itu,
hanya memandang saja yang boleh, malah disediakan teleskop yang
bisa dipakai dengan memasukkan coin 500 Won
Terlihat ada dataran rendah yang hijau, dengan dua lapis pagar kawat
berduri yang mengular, dan gardu penjagaan terlihat disana sini.
Sejak tahun 1953, tanah di DMZ itu adalah tanah yang no man land -
fauna dan flora disana akan terjaga dari manusia entah sampai kapan,
seakan menjadi natural reserve bagi wild plant dan animal.
Propaganda village dan farmland Korut tampak dikejauhan, termasuk
patung bronze Kim Il Sung.
Tempat meneropong ini juga dijaga ketat MP yang masih muda2 itu,
saking penasaran saya ajak salah satunya untuk foto bersama -
eh engga disangka dia mau.(foto)


Perjalanan kemudian dilanjutkan, dan bus kembali menuruni gunung,
melewati wilayah penuh ranjau itu dan dalam lima menit sudah tiba
dilokasi highlight tour ini yaitu The Third Infiltration Tunnel.

Untuk bisa mencapai ujung tunnel yang berada 73 meter dibawah
permukaan tanah itu bisa dengan jalan kaki atau naik mini train.
Kebetulan waktu kedatangan kami pas dengan jadwal keberangkatan
mini train, kalau tidak harus jalan kaki lewat terowongan curam.

Di stasiun train, semua harus pakai helmet pelindung kepala, dan
semua tas harus dimasukkan locker di stasiun itu.
Kamera gimana ? Ternyata tidak boleh motret disana katanya,
Wuuah sayang amat nih.
Semula saya nekat mau kantongi saja kamera kecil saya itu,
siapa tahu ada kesempatan curi2,
tapi seorang teman bilang kalau ketahuan bawa kamera bisa
dipecahkan, yah sudah nyerah deh masukkan juga ke locker.

Kami segera naik train sebangku berdua, safety belt dipasang dan
mulailah train bergerak memasuki mulut terowongan yang kelihatan
sempit sekali - saya ukur atap terowongan paling sejengkal dari
kepala, dan sisi terowongan juga paling sejengkal dari ujung pundak.
Dan saya kembali sadar "kebiasaan" buruk saya, kembali terlupa
bawa senter kalau masuk kedalam gua.

Train jalannya pelan sekali, dan menurun dengan sudut kemiringan
yang aduhai, saya kira kemiringannya lebih dari 30 derajat.
Terowongan ini adalah bekas interception tunnel sepanjang 350
meter, yang dibuat fihak Korsel.
Setelah train berjalan sekitar 10 menit, sampailah kami diujung
jalur rel, rupanya awal dari Third Tunnel persis ada diujung rel -
berarti sekarang sudah berada dikedalaman 73 meter dibawah tanah.
Kami mulai berjalan kaki memasuki Tunnel yang asli, yang walaupun
cukup lebar dan tinggi tetap timbul perasaan tegang dan seram.
Dinding dan atap tunnel tidak rata, dan tampak basah meneteskan air.
Dindingnya berwarna hitam karena dilapisi serbuk batubara, rupanya
fihak Korut sempat mau menyamarkan bahwa itu terowongan dari
tambang batubara, padahal itu batu granit.

Terowongan ini dibuat dengan kemiringan kearah sisi Korea Utara
agar air yang terus keluar merembes, mengalirnya ke wilayah Korut.
Kami berjalan dengan hati- hati, menapaki lantai basah yang ditutupi
karpet agar tidak licin, setiap beberapa meter ada lampu penerangan.
Setelah berjalan sejauh 265 meter tampak didepan gulungan kawat
berduri menghadang dan dibelakangnya ada sebuah pintu besi,
rupanya pengunjung hanya boleh sampai dititik itu saja.
Maka kami balik menuju mini train yang menunggu untuk naik train
kembali ke stasiun dipermukaan tanah.

Setiba di ujung tunnel, teman-teman langsung naik mini train lagi,
tapi saya lihat ada mulut terowongan lainnya -
Whoaa rupanya inilah terowongan keluar lainnya yang hanya bisa
dilalui dengan berjalan kaki.
Ah udah kepalang masuk, masa engga dicobain.
Akhirnya bersama dua teman yang usianya jauh lebih muda kami
mulai menapaki tunnel ini.
Tunnel ini dibuat oleh fihak Korsel, yang mulai digali pada tanggal
30 Juni 2004.
Panjangnya 358 meter dan 3 meter lebar, ternyata berjalan mendaki
dengan kemiringan sekitar 35 derajat ini cukup membuat ngos2an,
setelah 15 menit barulah bisa keluar menghirup udara bebas.

Akhirnya bus membawa kami ke Dorasan Station,
station KA paling utara dari Gyeongui line railway.
Jaraknya hanya 700 meter dari garis DMZ, dan Pyongyang berada
205 km diutara.
Kabarnya sedang dilakukan perundingan untuk membuka jalur KA
ke utara, kalau perundingan berhasil maka akan railway itu akan
linked sampai ke Eropa oleh Siberian Railway.
Didalam station megah yang pernah dikunjungi Pres.George W.Bush,
tampak sebuah Gate bertuliskan : To Pyeongyang.

Mudah2an perundingan berhasil, dan mudah2an pula saya bisa datang
kembali ke Dorasan ini untuk ke Pyongyang lewat gate tersebut.