Tuesday, December 6, 2011

Tour ZhangJiaJie+Guizhou, bagian ke-tiga : The First Natural Bridge in the World.




Selesai acara rendam kaki di toko obat kami diantar kembali ke gerbang Wulingyuan
scenic area yang paginya kami kunjungi.
Tiket masuk diperiksa dan ibu jari dipindai, berikutnya naik shuttle bus yang sama,
tapi kali ini bus meluncur ke lokasi berbeda.

Turun dari bus, kami mendapati berada didasar sebuah lembah sempit, saat melihat
sekeliling dimana-mana tampak deretan pilar batu pasir yang menjulang tinggi, unik
sekali dan dikejauhan tampaklah sebuah bangunan berbentuk kotak tinggi langsing
menyender ke dinding tebing yang tingginya sekitar 300-an meter.
Itulah Bailong Lift yang menakjubkan, lift kaca yang dibangun antara September 1999 -
April 2002 ini terdiri dari dua lantai, yang bisa mengangkut sekaligus 46 penumpang
atau setara 3500 kg, dengan kecepatan aduhai yaitu 3 meter per detik.
Jadi hanya perlu satu menit dan 58 detik untuk menyelesaikan pendakian setinggi
300-an meter itu.

Inilah elevator yang bisa mendapat Guinness World Records sampai tiga buah :
"World's tallest full-exposure outdoor elevator",
"world's tallest double-deck sightseeing elevator"
"world's fastest passenger traffic elevator with biggest carrying capacity"

Untuk menuju lift tersebut, kami harus jalan cukup jauh masuk ke perut bukit
melalui terowongan, barulah ketemu pintu liftnya dan antri masuk lagi.
Setelah kotak lift terangkat, awalnya melihat keluar hanya terlihat tembok beton
belaka, karena pada 156 meter pertama lift masih berada didalam perut bukit.
Dan tiba-tiba kami muncul diudara terbuka dan dalam pendakian 171 meter
berikutnya kami disuguhi pemandangan yang sungguh menakjubkan.
Tampak didepan mata kami deretan tiang/pilar2 raksasa kecoklatan tinggi2,
semua orang didalam lift terpana melihat pemandangan spektakuler itu.
Memang dilokasi inilah kita bisa melihat begitu banyaknya pilar2 batu pasir
raksasa yang berjejer seakan bergaya didepan mata kita, cantik sekali.

Setelah puas berfoto, kami berjalan menuju perhentian bus lagi, ternyata walau
tadi kami dengan naik lift berpindah naik sekitar 300 meter dari dataran rendah,
ternyata kini kami tidak berada dipuncak sebuah bukit yang sempit, tapi malah
berada di dataran lainnya yang juga luas sekali.
Terbukti shuttle bus membawa kami cukup jauh sampai perhentian berikut.

Kini kami harus jalan kaki menembus hutan lewat tangga batu yang naik turun
tidak habisnya, malah perjalanan berikut berada ditepian jurang yang dalam,
saking curamnya sampai tidak kelihatan dasarnya.
Sebenarnya tangganya cukup lebar untuk dua orang berpapasan, tapi saat itu
cukup banyak orang sehingga perjalanan agak terhambat, dan harus sangat
hati-hati karena berada ditepian jurang, kalau ada tas/kamera terjatuh tidak
akan mungkin bisa diambil.

Akhirnya setelah sekitar 20 menit berjalan sampailah ditujuan utama hari itu
yaitu The First Natural Bridge in the World.
Jembatan alam yang spektakuler itu berada 357 meter diatas dasar jurang,
sehingga disebut pula The Highest Natural Bridge in the World.
Jembatan alam itu terjadi karena erosi arus sungai yang menggerus lereng
gunung sehingga bebatuan yang lebih lunak runtuh.
Maka terbentuklah lubang raksasa yang menyisakan semacam kolom tanah
penghubung antar dua lereng bukit sepanjang 40 meter, lebar 2 meter dan
tebal 5 meter pada ketinggian ratusan meter dari dasar jurang itu.

Kami segera mencari lokasi yang bagus untuk berfoto kearah jembatan itu,
tempatnya sempit ditepian jurang sedangkan banyak orang sehingga perlu
hati-hati dan kesabaran dalam bergiliran berfoto.

Pemandangan dari berbagai sudut kearah jembatan, bukit2 dan ngarai yang
dalam itu sungguh menawan, inilah pemandangan yang sangat langka dan
sulit tertandingi keunikan dan kecantikannya.
Sungguh luar biasa ditengah medan yang begitu sulit, nun jauh ditengah
hutan lebat diantara bukit2 curam yang dipisahkan oleh jurang yang begitu
dalam dan curam, bisa ditemukan fenomena alam yang begitu unik.
Hebatnya pula telah dibuatkan jalan berupa tangga batu yang begitu panjang
dan rapih sehingga kini pengunjung bisa dengan mudah mencapainya.

Walau ada perasaan sedikit waswas akan kekuatan jembatan alam usia
ribuan tahun itu, tapi rasa penasaran lebih kuat sehingga kami mencoba juga
menyebranginya pergi-pulang.

Saat pulang kami kesorean, untung saja masih keburu mendapat bus yang
kabarnya terakhir, dan dalam kegelapan malam yang mulai dingin berada
dalam cable car yang membawa kami turun dari kegelapan gunung hutan
kembali ke kota WuLingYuan yang terang benderang untuk bermalam.

bersambung - bagian ke-empat: Mencapai (untung gak lewat) Heaven Gate.

13 comments:

  1. foto si om kok nggak ada? cuma banyakan foto tante nih

    ReplyDelete
  2. hahaha, gak fotogenik jadi males difoto

    ReplyDelete
  3. wah nanti kalau ditanya cucu gimana dong?
    "Opa kok nggak ada di foto, opa kemana? kok yg ada cuma foto oma terus, nah loh?

    ReplyDelete
  4. haha - itu kan foto pemandangan, kalau orangnya difoto berdua lha pemandangannya ketutup dong, trus kalo minta orang foto-in saya suka kurang puas hasilnya, maka kecuali ditempat yang saya bener2 suka barulah berfoto berdua.

    ReplyDelete
  5. pakai remote dan self timer dong om.

    ReplyDelete
  6. wah ribet, mesti bawa tripod, orang banyak bersliweran sedangkan
    waktu biasanya ngepas, bisa2 ngurusin kamera melulu ketimbang lihat pemandangan hehe

    ReplyDelete
  7. asyiiik, keren juga yah, tapi kan tetap orangnya jadi ngalingin pemandangannya,
    sebenarnya ada beberapa foto saya diperjalanan ini, tapi hanya ada beberapa
    di tempat2 yang bener2 saya pikir bagus banget seperti di HuangGouShu fall -
    itu air terjun yang unik banget karena bisa dilihat dari 6 sisi, yaitu atas bawah,
    kiri kanan dan depan - belakang (karena ada gua melintas dibelakang dinding
    air terjun dan dibeberapa titik ada lubang sehingga kelihatan air yang terjun itu
    dari arah belakangnya)

    ReplyDelete
  8. belum tuh, kamera Olympus saya sih bisa panorama

    ReplyDelete