Friday, October 10, 2008

Tiga kali masuk keluar pesawat dalam sehari.




Kiranya perasaan semua orang yang sekian lama meninggalkan rumah akan
sama saat roda pesawat yang ditumpanginya menjejak beton landasan bandara
Soekarno Hatta, yaitu lega dan senang segera akan bisa tiba kembali dirumah.
Itu pula yang kami rasakan Selasa, 7 Oktober 2008 menjelang malam, apalagi
sebelumnya terbang lumayan panjang - sampai harus tiga kali masuk keluar
pesawat Lufthansa, yaitu di Warsawa, Frankfurt dan Singapore.

Awalnya tanggal 6 Oktober, jam 07 waktu setempat (beda 5 jam dengan Jakarta),
kami sudah breakfast di Holiday Inn Warsawa Poland, dan jam 10 kami sudah
menuju bandara.
Itu adalah hari terakhir perjalanan darat dari utara ke selatan menelusuri tiga
negara Baltic ( Estonia - Latvia - Lithuania ) sampai di Warsawa Polandia.

Pesawat Lufthansa Airbus A319-100 take-off jam 14.30, hanya 1 jam 20 menit
sudah mendarat lagi di Frankfurt.
Di airport ini kami harus menunggu 6 jam, sekian lama berada didalam airport
yang jauh kalah nyaman dibanding Changi tentu menyebalkan, ditambah harus
jalan kaki yang nggak kira2 jauhnya dari terminal B ke terminal C.
Ribetnya lagi, setelah pemeriksaan security yang tidak meloloskan air minum
tidak ada drinking water seperti di Changi, kalau beli Aqua lumayan 3 Euro sebotol.

Pesawat berikutnya B 747-400 yang gede, dengan posisi seatnya 3 - 4 - 3,
tapi jarak kursinya sempit, kebetulan orang didepan saya suka merebahkan
kursinya habis2an, nyaris sejengkal lagi mentok ke jidat saya dah tuh kursi.
Mana kursinya keras lagi, lumayan tepos duduk 12 jam ke Singapore itu,
memang kalau mau nyaman sih duduk di business class, tapi asal tau aja -
mesti nambah per orang 3000 USD - mana tahan.
Terpaksalah harus bisa bertahan di RSS-SSS itu, Ruang Sangat Sempit-
Selonjor Saja Susah.

Untungnya duduk di aisle, jadi gampang duduk bangun ke toilet sekalian
menghilangkan pegal dan mengurangi ukuran kaki saya yang mendadak
nambah gede sedikit karena kelamaan duduk itu.
Memang duduk terus2an didalam pesawat, membuat kaki sedikit bengkak,
perlu jalan hilir mudik dilorong dan gerakan senam di dekat toilet belakang
yang agak lebar agar berkurang bengkaknya.
Untuk menghibur diri, bisa sih dengerin musik pakai headphone, atau
menikmati pemandangan keluar jendela - walau ketinggian sekitar hampir
sepuluh kilometer diatas permukaan bumi, dimalam hari kita bisa melihat
kumpulan kerlip lampu kota yang cantik sekali.

Soal makan juga ribet, makan pagi di hotel - makan siang di airport karena
bawa lunch-box, sorenya di Frankfurt keluarkan bekal Indomie karena benar
saja dinner baru disajikan jam 01 saat pesawat melintas diudara Ankara.
Makan ditengah malam itu tentu nggak dipikirin lagi apa rasanya, soalnya
biar seenak apapun yang penting isi perut saja.

Pesawat melintas diatas Jaipur India jam 05, di layar monitor terbaca
Singapore masih 5 jam terbang lagi, dan setelah breakfast disajikan pada
jam 8.30 maka jam 10.15 (masih waktu Poland) pesawat mendarat.

Di Changi berbeda sekali dengan di Frankfurt, boleh dikata kami cuma
keluar pesawat dan langsung masuk ruang boarding lagi, lha cuma ada
waktu setengah jam mah sama aja bo-ong cuci mata disana.

Setiba di rumah, esoknya cari Intisari yang jadwal terbitnya 8 Oktober,
dan ternyata cerita perjalanan saya dimuat disana.

Adanya di rubrik Langlang, berjudul : Sarajevo - Tiga Kali Memukau Dunia.

Berlangganan Intisari ?, lihat dihalaman 54.
Tidak berlangganan ?, ayo beli atuh, he he.



72 comments:

  1. wah DOk, coba aku tau sebelumnya, aku kenalin ama mantan bos ku di Aceh, dia orang Latvia, skr di Riga kerjanya, bisa diantar2 tuh

    ReplyDelete
  2. ckckckckckckckck...kelilingan terus ga pusing, om???

    ReplyDelete
  3. yaaaah, telat,
    kami dua malam disana tuh Rie.
    besok foto2 Riga saya upload.

    ReplyDelete
  4. ayo atuh - saya siap jadi guide nya koq, he he

    ReplyDelete
  5. Dok..., akhirnya saya kembali membaca artikel Anda di Intisari...., ditunggu artikelnya terus Dok....;)

    ReplyDelete
  6. nggaaak - he3- kali ini perjalanan agak nyantai karena
    jalan darat terus,
    yang rada ribet terbangnya itu, perginya juga panjang :
    Jkt-Spore-Fra-Tallinn, dan di Frankfurt malah nunggu 8 jam !

    ReplyDelete
  7. thanks,
    iya deh nanti ketak ketik lagi.

    ReplyDelete
  8. Iya deh, n'tar saya cari intisarinya.
    Pengen baca tulisannya Pak Dokter.

    ReplyDelete
  9. thanks,
    mestinya masih ada Intisari nya,
    baru aja terbit

    ReplyDelete
  10. kalau pinjem aja majalahnya gmn om?? ;p

    ReplyDelete
  11. jadi skr udah brp Negara Dok, mau "balap" rekor Om Tanzil ya :-)
    Target saya sementara 50 negara aja Dok dalam 10-15 tahun kedepan haha

    ReplyDelete
  12. waduh asyik betul dok limo untuk pengantinnya :)

    ReplyDelete
  13. Interesting Dok, basisnya "Humvee" yaa?

    ReplyDelete
  14. wooowooo...so beautiful !!
    danau apa ni namanya...airnya tenang sekali :-)

    ReplyDelete
  15. berapa meter ni panjangnya Dok, bisa disini brp orang??

    ReplyDelete
  16. dok, jadi pengen jadi penganten lagi ga, hehehehe. Kali didalem sambil nyanyi "ular naga panjangnya, bukan kepalang...."

    ReplyDelete
  17. katedral yang bersih dan apik niy... beda banget sama yang di europa sana, banyak perniknya. Gimana interiornya ya Dok...

    ReplyDelete
  18. coba yg 8 jam di Changi ya bisa ikutan city tour tuh ke sentosa island ;)

    Heran airport Eropa nggak ada yg bener ya Dok, namanya aja disebut-sebut mulu Charles de Gaulle lah, apalah padahal sama Soekarno Hatta mah nyaris sama tuh hehehe....

    ReplyDelete
  19. Pak dokter, tambah lama foto2nya tambah bagus nih..
    jadi ada upgrade dlm keahlian dunia camera ..

    ReplyDelete
  20. Tidak berlangganan ?, ayo beli atuh, he he. <----- segera ke lapak majalah!....

    ReplyDelete
  21. speechless dibuatnyaaaa..........

    ReplyDelete
  22. Wah, pa Dokter ternyata penulis Intisari juga ya...kuper aku...he he...
    ga bisa baca Intisari Dok, disini ga beredar, ada on line nya kan...?
    *penasaran...*
    btw belum ada yang ngalahin nyamannya changi ya Dok...emang hebat tuhhh changi...

    ReplyDelete
  23. wahhh senangnya bisa jalan-jalan.
    walaupun tiga kali keluar masuk pesawat dalam sehari, tetap menjadi pengalaman yang berkesan kan dok..

    ReplyDelete
  24. Perjalanannya selalu bagus2 deh...thanks buat sharing fotonya...memang kalau economy mesti bersempit2 ria, suka terbang n selalu dpt tiket gratis economy class , kalau dari kantung sendiri enggak mau lah, krn kadang bisa lebih mahal 5-6 ribu dollar dbanding ekonomi apalagi dunia lagi krisis moneter begini....
    Btw pengen banget ke Petra, aman gak disana dok n perlu visa gak bagi paspor indo??? thanks

    ReplyDelete
  25. Jadi gimana Pak Dokter?
    Vilnius lebih bagus nggak kalo dibandingin sama Tallin dan Riga? Hehehe.. Kali2 someday ntah kapan dapet tiket pesawat murah.. *ngarep dot com**
    Harusnya sih lebih dingin kali ya?
    Lebih nylungsep ke daratan gitu..

    ReplyDelete
  26. Dok, ngga pake stocking anti bengkak buat perjalanan jauh gitu? hehe...

    ReplyDelete
  27. gila dok..ciamikkk en tenang bangetttttttttt

    ReplyDelete
  28. asiknyaa jalan-jalan terus pak Sindhi..
    ini indah sekali pak..

    ReplyDelete
  29. yaah sepertiganya aja belon Rie,
    pak Bruriadi Kusuma inget kan ? - beliau sudah 158,
    ada rekannya yg top rank yaitu 194 negara, berarti semua
    negara yang ada dimuka bumi sudah disapunya -
    terakhir ke Afganistan dan ketemu dg Agustinus Wibowo -
    Jser yang tinggal di Kabul.

    ReplyDelete
  30. ada sampai 4 limo pengantin diparkir dihalaman yang luas
    dari Katedral di Kaunas Lithuania itu, ada yang warna hitam.
    mobil itu kalau ada di Tangerang bakalnya diusir sama tukang parkir, menuh2-in tempat parkir ajah.

    ReplyDelete
  31. saya nggak perhatiin, soalnya kayaknya saya motret itu ada
    sopir yang nggak suka, pakai remote - alarm nya dibunyikan

    ReplyDelete
  32. lupa namanya, nanti saya cari,
    pulau dimana ada Trakai Castle itu diapit oleh
    tiga buah danau, memang cantik sekali.

    ReplyDelete
  33. berapa yah, kira2 aja dah, he3,
    saya nggak lihat dalamnya karena kaca gelap,
    kita motret deket2 situ aja dibunyikan alarm mobilnya,

    ReplyDelete
  34. kayaknya bebek,
    oh bebeknya banyak tuh, tapi kebetulan yang satu ini
    sedang menuju tepian maka saya cepat2 tungguin

    ReplyDelete
  35. interiornya nggak istimewa, rupanya saat masih gabung
    dengan Uni Sovyet dialihfungsikan jadi Gedung Kesenian,
    belakangan saja baru dikembalikan jadi katedral.
    yang interiornya cantik gereja St Paul&St.Peter,
    nanti saya upload tersendiri di grup Lithuania.

    ReplyDelete
  36. iya tebalik, kalau 8 jam di Changi sih betah banget

    ReplyDelete
  37. hi Kim,
    thanks,
    kameranya masih yang dulu dipakai di Jepang itu.

    ReplyDelete
  38. yah, cuma bisa setahun sekali doang,
    dulu Prof HOK Tanzil munculnya tiap bulan selama ber-tahun2.

    on line nya ada tuh, tapi saya sulit bukanya, ini linknya :
    http://www.intisari-online.com/

    ReplyDelete
  39. memang kita harus cari daya agar bisa tetap sehat dalam
    perjalanan dg pesawat yang panjang melelahkan itu

    ReplyDelete
  40. Petra di Jordan kan ?
    kabarnya bagus sekali, saya belum pernah kesana.

    ReplyDelete
  41. Betul Vilnius lebih menarik, Tallinn cuma se-uplek doang,
    Riga juga walau dalam sksla lebih gedean.
    Thanks infonya yah.

    ReplyDelete
  42. sebenarnya saya jarang bengkak gitu, karena sesekali saya suka
    duduk gaya bersila, kemarin kan sempit banget, nggak bisa nekuk
    lutut, terpaksa di selonjorin terus - pas mau ke toilet eh sepatu jadi sempit.

    ReplyDelete
  43. foto dibuat dari gerbang masuk halaman castle

    ReplyDelete
  44. ok dok.. ntar saya cari intisari, mudah2an di gramedia masih ada:)

    ReplyDelete
  45. thanks,
    dulu saya pernah lihat ada foto yang seperti ini,
    yaitu pakai bingkai dari pintu/jendela/pepohonan dll,
    maka beberapa kali pernah saya coba dan memang
    kelihatannya jadi lebih enak dilihat ketimbang polos
    tanpa bingkai, mudah koq kalau bikin seperti ini,
    yang agak sulit mencoba memberi bingkai dari ranting
    pepohonan misalnya, karena meng komposisikannya
    rada susah.

    ReplyDelete
  46. mestinya masih ada, saya belinya di kios2 pinggir jalan,
    malah kemarin ada dua teman bilang di Gramedia justru
    belum datang Intisari itu.

    ReplyDelete
  47. waaaaa, fotonya bagus bangeeeeet.... *melongo*

    ReplyDelete
  48. komposisinya bagus banget oom! *melongo lagi*

    ReplyDelete
  49. kayaknya bener hummer dijadiin limousine... ck ck ck

    ReplyDelete
  50. ini pake pocket camera Olympus kuno yang tebel itu, he3 ,
    nah kalo teman seperjalanan saya pakai Canon SLR -
    tentu hasilnya akan jauh lebih bagus.

    ReplyDelete
  51. pake pocket camera aja udah bagus, pak. pake SLR pasti lebih OK lagi. memang kalo aslinya udah indah ya difoto pake apa aja biasanya jadi indah juga. saya juga suka yg ada bebeknya itu

    ReplyDelete
  52. ada tiga teman bawa kamera gede itu,
    kamera itu tentu mahal dan berat, repot bawa2nya.
    bebek ? - saya memang sengaja tungguin dia mendekat.

    ReplyDelete
  53. Seandainya foto di atas 'diolah' menjadi foto HDR, pastilah
    hasilnya tidak kalah bagus dibanding dengan hasil potretan
    kamera DSLR

    ReplyDelete
  54. kami nyampe disana jamnya pas, itu masih agak pagi sekitar jam 10,
    kebetulan matahari ada disebelah kanan, memang pemandangannya
    bagus sekali, begitu kami sampai disitu langsung ramai2 jeprat jepret.
    foto HDR - apa itu ? nggak nyampe ilmunya - he he

    ReplyDelete
  55. cantik euy...sambil ngedream kapan bisa kesini...^_^

    ReplyDelete
  56. majalah intisari memang bagus dan menarik,..tapi kok mahal ya?? ukuran kantong qu..:)

    ReplyDelete
  57. waaah... nice pic ! keren Om... smoga bisa kesampean mampir ke situ aaah... :))

    ReplyDelete
  58. foto ini juga keren... waaah... perjalanannya makin bercerita banyak dgn foto indah begini. tfs !

    ReplyDelete
  59. thanks Sien,
    tentunya sebagian besar orang yang jalan2 akan
    bawa kamera, jadi akan bisa buat foto2 seperti ini.

    ReplyDelete