Monday, November 12, 2007

Fatehpur Sikri - "The City of Victory" yang juga "A City an Emperor Forgot".




Fatehpur Sikri, sebuah kota kecil tak jauh dari Agra
di India utara awalnya menyandang gelar yang gagah,
yaitu "The City of Victory".
Tapi mendadak secara misterius jatuh pamor, menjadi :
"A City an Emperor Forgot".

Kisahnya memang sungguh menarik, terjadi saat
dynasty Mughal mencapai puncak kejayaannya.
Kekuasaan Akbar - sang Raja, membentang di India
Utara, tak ada raja lain yang bisa menyainginya.
Daerah kekuasaannya aman tenteram, dan gudang
harta di istananya penuh sesak.
Sayangnya sang Raja ini belum mempunyai putra
mahkota dari sekian orang Ratu nya.

Disebuah tempat bernama Sikri, 37 kilometer dari Agra
tinggal seorang Sufi suci bernama Sheikh Salim Chishti
yang terkenal sakti.
Sang Raja konon sampai sengaja berjalan kaki dari
Agra ke Sikri untuk menemui dan mohon pertolongan
Sufi Chishti atas masalah berat itu.
Sang Sufi mengatakan bahwa Akbar akan mempunyai
putra, malah sampai tiga orang.
Benar saja tahun 1569 salah seorang ratu melahirkan
Putra Mahkota, dan persis sesuai ramalan dua putra
lainnya juga menyusul lahir.

Sebagai rasa terima kasih dan syukur, tahun 1571
Akbar membangun istana besar di Sikri, dinamainya :
Fatehpur Sikri atau The City of Victory - sebagai simbol
kemenangan berhasil menguasai wilayah Gujarat.

Kota dibangun di sebuah bukit, terdiri dua komplek,
yang pertama adalah bangunan istana serta taman.
Didalamnya selain kediaman raja, ada ruang audiensi,
ruang harta, harem, barak penjaga, serta dapur.
Komplek kedua, untuk kediaman Sufi suci, Mesjid dll.

Akbar menerapkan arsitektur dengan style campuran
elemen Islam dengan Hindu, sehingga unik sekali.
Islamic Arsitektur yang bersumber dari Afganistan dan
Persia ditandai dengan minimnya ornamen2 diatas
motif-motif geometric yang cantik.
Sedangkan pengaruh Hindu dan Buddhist style
tampak dari kayanya warna ke-merah2an.
Memang Akbari style ini didominasi pemakaian red -
sandstone, style ini nantinya ini dikembangkan oleh
cucunya : Shah Jahan, yang mengkombinasinya
dengan pemakaian marmer untuk masterpiece-nya
yaitu Taj Mahal - salah satu tujuh keajaiban dunia.

Bertahap pusat pemerintahan berpindah dari Agra ke
kota baru ini, tetapi mistery terjadi 14 tahun kemudian.
Tahun 1585 Akbar mendadak pindah dari Fatehpur Sikri,
dan tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya lagi
di kota yang belum lama dibangunnya itu.

Awalnya pindah ke Lahore, belakangan malah kembali
ke Agra, sedangkan Fatehpur Sikri tidak pernah lagi
menjadi ibukota kerajaan Mughal.
Tragis sekali, lorong-lorong istana menjadi sunyi senyap
sia-sia menanti kehadiran sang Raja yang tak kunjung
kembali.

Para Ahli mencoba mencari apa alasan kepergian
mendadak itu.
Salah satu theori adalah menipisnya sumber air, ini
agak sulit dipercaya sebab para perancang kota dan
teknisi Akbar mestinya tidak akan membangun kota
tanpa mempertimbangkan hal yang sangat penting
yaitu ketersediaan air.
Seorang ahli sejarah malah bilang bahwa justru itulah
bukti tipikal kelakuan boros Raja-Raja dynasti Mughal.

Kamis, 29 Des 2005, jam 7.30 pagi bus kami sudah
berangkat meninggalkan Jaipur menuju Agra yang
berjarak sekitar 239 kilometer.
Perjalanan sekitar 4,5 jam ini mengarah ke timur,
memakai jalan antar kota yang dua arah model jalan
antara Jakarta - Bogor jaman baheula.
Kendaraan terlihat memakai aneka plat nomer yang
ber kode DL (Delhi), atau UP (Uttar Pradesh) atau
RJ (Rajasthan), dan saya baru ngeh kalau semua
bus turis warnanya seragam - putih !.

Sepanjang jalan pemandangan membosankan, kiri-
kanan hanya tanah kosong, paling banter ladang,
maklum saja masih dekat2 tepian gurun.
Mendekati Fatehpur Sikri, daerah sekitar ada bukit2
kecil diantara daerah agak gersang berdebu itu.

Bus parkir dan kami berjalan sedikit dan memasuki
gerbang komplek istana yang dikelilingi tembok.
Halaman dalam komplek yang lumayan luas itu
beralaskan lantai batu, dan ada taman kecil.
Disana sini ada bangunan dari red sandstone jadi
dominan warna merah seperti bangunan2 di Jaipur,
tapi sedikit hiasan, minimalis sekali.

Kami memasuki Diwan-I-Khas, mungkin dulunya
ruang debat/diskusi, fungsi sebenarnya gedung
dengan struktur unik ini masih tidak diketahui.
Tiang utama Akbar court ini, ditopang oleh siku-
siku berukir yang terinspirasi oleh bangunan2
Gujarat - artistik dan cantik sekali.

Persis disebelahnya adalah Ankh Michauli, diduga
tempat menyimpan barang2 berharga kerajaan.

Yang paling atraktif adalah Panch Mahal, gedung
tinggi terdiri lima tingkat ini adalah tempat dimana
para ratu bersantai menikmati angin sepoi-sepoi
sejuk disore hari dengan pandangan kearah
Pachisi Court - tempat bermain para Harem.
Bersisian dengan Panch Mahal terlihat Khawbgah,
inilah pojok pribadi raja dimana raja tidur didalam
tempat yang disebut " chamber of dream".
Didalamnya terdapat lukisan dinding dan kaligrafi
dari Persia dan lubang2 ventilasi yang dirancang
dengan cerdik bisa mengalirkan udara sejuk.

Didepan Khawbagh tempat raja bersantai itu, ada
sebuah kolam yang kini kering, itulah Anoop Taloo,
konon dahulu raja dihibur oleh pemusik legendaris
yang dikatakan bisa menyalakan lampu minyak
di kolam hanya dengan sihir dari suaranya.

Didalam bangunan bernama Turkish Sultana House,
dinding batu diukir menjadi terlihat seakan terbuat
dari kayu.

Memang sayang sekali komplek istana yang
dibangun dengan cita rasa tinggi itu, diabaikan
oleh sang Raja Akbar begitu saja, untunglah
sangat terawat baik, dan saat ini masuk dalam
daftar Unesco's World Heritage.

Perjalanan berikut ke kota Agra dekat saja,
sekitar jam 14.30 rombongan kami yang sudah
kelaparan berat, tiba di Hotel Sheraton Mughal -
untuk makan siang dan bermalam.

10 comments:



  1. Menarik sekali perjalanannya pak,
    Pak Sindhi Istananya sekarang masih dipergunakan keluarga kerajaan atau jadi tempat objek pariwisata ajah??

    ReplyDelete

  2. Sudah tidak dipakai untuk tinggal lagi,
    jadi cuma 14 tahun doang ajah tuh -
    makanya untung saja tidak dirusak/dijarah,
    ada sih marble screen di Panch Mahal yang hilang,
    tapi sebagian besar masih bagus/utuh - nah ini
    hebatnya India - banyak peninggalan kuno jaman
    raja2 itu yang sampai sekarang masih sangat bagus
    kondisinya, keruan kalau Taj Mahal , juga berbagai
    istana benteng juga masih sangat terawat bagus.

    ReplyDelete


  3. wah seandainya istana maimun di padang, atau istana lainnya juga diperlakukan sama... diurus gituh... di rawat, pasti ngga bakal kaya sekarang... aniwei thanks buat penjelasannya

    ReplyDelete
  4. Ugh..ternyata banyak juga yang sangat menarik di India ya pak..
    trims untuk cerita menarik ini pak...

    ReplyDelete
  5. Ini penjual kerak telor di pasar lama ya, Ku? hehehe =)

    ReplyDelete
  6. untuk kado natal boleh juga nih.... =)

    ReplyDelete
  7. kemungkinan pakai transfat atau preservative pasti kecil skl ya Pak. cuman yang masak cucui tangan dulu gak ya Pak? jadi ingat penjual gudeg di YK dulu. mrk taruh uangnya di kutang, terus ambil gudegnya sedikit2 sambil sekali2 kembaliin uang receh dari kutangnya. tp saya sukur alhamdulilah nggak sakit perut tuh...

    ReplyDelete
  8. beautiful pic beautiful building....

    ReplyDelete
  9. he3-
    kita yang biasa lihat kayak gini sih, mesem2 aja,
    tapi tentu beraninya kalau di kampung halaman, kalau
    diperjalanan seperti ini sih tetap nggak berani nyoba

    ReplyDelete