Tuesday, January 20, 2009

Nyelonong ke Pabrik Kue Keranjang Ny.Lauw Tangerang.




Rabu pagi saya terima SMS dari pak Djenny Tanius - JSer BSD,
menanyakan tentang Kue Keranjang Ny. Lauw, mau beli buat
dibawa mudik ke Lampung katanya.
Saya bilang baru saja nilpon ke pabriknya, diterima oleh bu Imong
yang menjelaskan lokasi pabrik, dia mempersilahkan datang,
masih buat Kue Keranjang sampai dengan Jumat lusa katanya.
Tapi tidak bisa beli karena semua sudah pesanan orang, kalau
mau beli di Pasar Lama juga ada katanya.

Kebetulan ada sedikit waktu luang, saya cari pabriknya itu dan
ternyata memang mudah sekali.
Setelah melewati Pintu Air yang mengarah ke kali Mookervaart,
belok kekanan, setelah melewati Apotik Pintu Air, langsung belok
kekiri dan tidak jauh disebelah kanan ada tukang peti mati -
pabrik encim Lauw persis disebelahnya.

Bu Imong mempersilahkan saya masuk kedalam rumah yang
cukup besar dan panjang sampai kebelakang yang dipenuhi pekerja.
Silahkan lihat-lihat sendiri yah katanya, dan saya minta ijin pula
untuk boleh mem-foto didalam.

Kebetulan sekali kegiatan masih berlangsung, terlihat tampah tempat
tepung ketan, gula pasir yang sedang dimasak.
Kedua bahan itu nantinya diaduk dan disimpan dulu sekian lama,
setelah "matang" barulah ditimbang dan ditempatkan dalam keranjang
yang beralaskan daun pisang yang sudah dipanggang sebentar.
Saya baru ngeh kalau gula yang dipakai adalah gula pasir, jadi warna
merah kecoklatan dari kue keranjang bukan dari gula merah.

Keranjang kemudian ditempatkan susun menyusun dan nantinya
ditutup pakai tong aluminium, kemudian di-steam selama 12 jam.
Pembakaran memakai kayu dari pohon Rambutan.

Didalam pabrik sederhana yang hiruk pikuk penuh pekerja yang sibuk,
termasuk kegiatan finishing mengeluarkan kue yang sudah matang
dari keranjang dan merapihkannya.
Terlihat pula pembeli yang rupanya sudah pesan mengerumuni putra
encim Lauw yang tampak kewalahan melayaninya.

Disatu sudut pabrik terlihat pula kegiatan membuat dodol, banyak
pekerja pria sedang mengaduk dodol,
Bu Imong memberikan saya sepiring dodol yang sudah dipotong dan
diawuri Wijen, memang dodol disana ada tiga macam, yang polos
warna hitam saja, ada yang pakai wijen dan ada yang dodol duren.

Encim Lauw yang berusia 84 tahun, tinggal di rumah itu pula,
saat ngobrol-ngobrol ternyata kenal baik dengan almarhum kedua
orang tua saya.
Ngobrol-ngobrol dengan encim yang terlihat masih segar dan cerdas
ini ternyata pula membawa berkah pada saya.
Saat permisi pulang, tiba-tiba beliau memerintahkan bu Imong :
Bawa-in Kue Keranjang buat dia tuh !.
Nah lu, kalau big-boss udah merintah gitu siapa yang berani nolak,
termasuk saya juga mana berani ngeyel nolak he he.

Perajin Kue Keranjang dan Dodol Nyonya Lauw.
JL. Lio Baru/Bouraq Gang SPG No 55 RT 01/02
Kampung Sirnagalih, Karangsari,
Kecamatan Neglasari, Tangerang, Banten
Telepon : 021-5524587 dan 021-71095035.

129 comments:

  1. jadi coklatnya itu warna karamel gula ya.. dan baru keluar warna-nya setelah di steam

    ReplyDelete
  2. si Encim bilang, campuran gula an tepung ketan itu
    harus disimpan dulu sekian lama, kalau belum cukup lama
    sudah dimasak maka nggak jadi merah malah bening saja.

    ReplyDelete
  3. Thanks untuk sharingnya... baru kali ini tahu proses pembuatannya, setelah sekian lama! Bagus sekali tulisannya Bung Sindhi.

    ReplyDelete
  4. Itu tungkunya pakai bahan bakar apa ya?

    ReplyDelete
  5. iya Dok saya sempet liat pabrik kue kranjangd i Magelang sama Pak Bondan dan Nana, gulanya memang putih yang jadi caramel, kalau kita makan kue ranjang emang ga krasa aroma gula merah

    ReplyDelete
  6. Dodol ini bahannya apa aja ya selain wijen?

    ReplyDelete
  7. ur welcome bung,
    saya kesana setelah baca ini :
    http://www.detikfinance.com/ read/2009/ 01/19/082740/ 1070576/480/
    kue-keranjang- yang-tak- pernah-lekang

    ReplyDelete
  8. didepan rumah si Encim banyak potongan kayu bakar,
    saat saya tanya itu dari pohon Rambutan yang banyak
    didaerah Serpong katanya.

    ReplyDelete
  9. Rie,
    saya baru tahu tadi lho, kirain pake gula merah hehehe

    ReplyDelete
  10. Pada akhirnya terima kasih, menarik sekali tulisannya.

    ReplyDelete
  11. Duh tadi lupa nanyain,
    kayaknya wijen buat diawuri dibagin luarnya saja.
    Oh ya, kue keranjang itu dibuatnya setahun sekali,
    tadi saya tanya katanya sejak sebulan yg lalu.
    kalau dodol sepanjang waktu.

    ReplyDelete
  12. Thanks,
    tadi kesana niatnya mau atur ajak teman Jalansutra
    kalau2 mau lihat2 juga - tapi ternyata waktunya sudah
    mepet - lusa terakhir bikinnya.

    ReplyDelete
  13. ooohh i see. saya baru tau kalo didiamkan lama bisa berubah warnanya

    ReplyDelete
  14. Om, wijen itu untuk kue keranjang juga atau cuma buat dodol ? kayaknya saya gak pernah nemu kue keranjang pake wijen.
    Trus bahan kue keranjangnya cuma tepung ketan dan gula pasir doang yah.. simple banget...

    ReplyDelete
  15. wijen buat dodol,
    iya cuma tepung ketan + air gula pasir,
    nggak pake resep rahasia2an kata si Encim.

    ReplyDelete
  16. wah, last name nya sama dengan saya (irma_lauw@yahoo.com) hehehe...

    ReplyDelete

  17. sy paling demen sm kue cina (keranjang) kalo dikukus trus dicocol pake parutan kelapa muda..
    top euyy :p

    ReplyDelete
  18. jadi pengen liat langsung pembuatannya oom...

    ReplyDelete
  19. waah, saya sering liat di TV si encim ini...
    ulasan & foto yang menarik Pak... secara ikutan tour ke pabriknya juga....

    ReplyDelete
  20. wah masih bahan bakar kayu ya ...
    kalau masih sedikit ,. tidak merusak lingkungan ya.
    Tapi bayangkan kalau ada puluhan atau ratusan "pabrik" yg pakai bahan bakar kayu... hiks... rusak dah hutan.

    ReplyDelete
  21. cukup banyak ya pekerjanya.
    bisa membantu memberikan peluang pada ibu2.. walau hanya setahun sekali

    ReplyDelete
  22. Hebat ya, dah setua itu masih aktif bikin kue keranjang. Aku selama ini cuma ikut menikmati aja sih, belum pernah tau cara bikinnya gimana. Makasih ya pak :D

    ReplyDelete
  23. wah telat, saya juga punya foto2nya, tp sampai saat ini belum sempat upload. dapat kue keranjangnya gak pak?

    ReplyDelete
  24. Memang yang namanya Sindhiarta itu cerdik sekali.
    Abis motret-motret dan nyicipin kue keranjang permisi pulang. Padahal dalam ati berfikir: "Masa sih nyonya rumah tega biarkan aku pulang lengggang-lr\enggang kangkung?"
    Huuuaaa haaa haaa! Bisa ditiru trik itu!

    ReplyDelete
  25. pak Mulya,
    rasanya yang hebat adalah encim Lauw, dalam usia yang sudah 84 th. masih bisa mengelola sebuah pabrik home industri dengan sekian banyak karyawan...benar2 beliau luar biasa!
    Patut dicontoh pak!
    salam - Umbas

    ReplyDelete
  26. masih keburu tuh,
    datang aja - gampang nyarinya koq

    ReplyDelete
  27. betul - bu Imong bilang udah tiga stasiun TV swasta
    yang pernah meliputnya.

    ReplyDelete
  28. wah pengen...tapi sayang udah dibeli semua yah....

    dodolnya menarik tuh..

    ReplyDelete
  29. oh bu Lisa juga sudah kesana,
    dimuat atuh foto2nya.
    kue dapat nggak ? - nah tu die saya
    "dipaksa" bebawaan pulangnye hehehe,
    kan ada tuh fotonya :
    yang dua buah kue keranjang + dua dodol

    ReplyDelete
  30. sssssttt-adduuuuh - jangan kenceng2 poaaak,
    kan seguru seilmu ulah ngaganggu, huehehehe

    ReplyDelete
  31. masih lumayan sehat pak Eddy,
    walau sedang berobat.
    ada anak2nya yang aktif disana.

    ReplyDelete
  32. si Encim bilang di Pasar Lama juga dijual,
    pake merek Ny.Lauw katanya.
    yang pasti di Pasar Lama itu adanya di-Asinan Lan Jin.

    ReplyDelete
  33. Ini juga kue kesukaan saya,,
    Pak dokter, ada ngga jatah buat saya nih? ha...ha..ha..
    Biasanya teman2 selalu membelikan kue keranjang Ny. lauw..
    tapi tahun ini belum ada yg buka suara nih.
    tx atas reviewnya

    ReplyDelete
  34. berkah kan nggak boleh ditolak dr. Sindhi :)

    ReplyDelete
  35. Wah ceritanya menarik sekali Pak Sindhi. Gambar2nya bercerita sekali. Thanks for sharing.

    ReplyDelete
  36. uwaaaa...
    kue keranjang biasanya hadir saat Lebaran :)
    kalo aq biasanya menaruhnya dulu di kulkas, selang 2-3 hari ambil dan iris agak tipis, masukkan ke dalam adonan tepung (seperti mau masak tempe goreng tepung), pengen lebih gurih tambah margarine sedikit... baru kemudian dimasak deh di wajan dengan minyak yang cukup panasnya...kalo dah matang, angkat deh, siap dihidangkan untuk teman minum kopi atau teh di sore hari :)

    *serasa sepotong kue keranjang di depan mataku,hehehe*

    ReplyDelete
  37. ...kalau pakai tungku kayu bakar, aromanya pun akan terasa lain...
    tambah sedep :)

    ReplyDelete
  38. Enak ya Pak Dokter?

    Minggu lalu saya makan kue keranjang di salah satu toko kue -yang menurut temen paling enak kue keranjangnya- di Chinatown Singapore , enak.. empuk..

    Kalo di Jakarta, di mana bisa dapat kuenya Ny Lauw?

    ReplyDelete
  39. Enak ya Pak Dokter?

    Minggu lalu saya makan kue keranjang yang kata temen saya paling enak di Singapore, belinya di satu toko di Chinatown sana. Memang enak, empuk banget.

    Kalo kue keranjangnya Ny Lauw dijual di Jakarta ngga ya Pak?

    ReplyDelete
  40. Enak ya Pak Dokter?

    Minggu lalu saya makan kue keranjang yang dibeli di toko yang menurut teman saya paling enak di Chinatown Singapore. Memang enak sih, empuk...

    Kalau kue keranjang Ny Lauw di Jakarta bisa dibeli di mana ya?

    ReplyDelete
  41. Menarik sekali liputannya pak Sindhi, terimakasih saya jadi belajar kenal kue keranjang ini.

    ReplyDelete
  42. Dok..encim ini memberdayakan ibu2 sekitar rumah dia ya??pekerja musiman..lha setaon sekali...

    ReplyDelete
  43. Pak, saya baru tahu kenapa disebut kue keranjang. Ternyata nyetaknya pake keranjang, ya? :D asik banget ni .. bisa maen ke pabriknya.

    ReplyDelete
  44. yang paling kanan itu apa? hanya wijennya?

    ReplyDelete
  45. hi Kim van Tokyo,
    pernah nyampe juga kesana rupanya, hebat euy

    ReplyDelete
  46. tentu nggaaak hehehe,
    cuma malu ati ajah, udah nyelonong datang,
    motret2 gangguin yg kerja dg lampu blitz,
    disuguhin dodol wijen sepiring, eh dibawain
    lagi dua kue keranjang + dua dodol,
    tapi memang nggak boleh nolak pemberian
    yang diberikan orang tua dengan tulus itu.

    ReplyDelete
  47. thanks,
    memang seru tadi sendirian selonongan
    kesana kemari, sayang waktunya mepet
    tadinya kan mau ajak kalau yang mau lihat2 -
    ternyata terakhir Jumat -
    kalau Jumat pagi ada yang mau datang kesana -
    saya anterin dah.

    ReplyDelete
  48. cocooook benerrrr !
    kalo masih baru ini kan lengket rada susah makannya
    sebab bikin belepotan, nah kalau sudah sekian lama
    kue ini akan mengeras dan kalau diolah seperti anda
    bilang itu bener2 asyik dah - saya suka sekali, bisa
    habis buanyaaaak.

    ReplyDelete
  49. saya sempat tanya si Encim Lauw,
    katanya sih ada juga yang ambil ke Jakarta,
    tapi saya nggak tanya dimana,
    kalau di Tangerang di Pasar Lama, persisnya
    di Asinan Lan Jin yg ada dibelakang Lippo Bank.

    ReplyDelete
  50. Saya juga tadi nostalgia masa kecil yang
    samar2 inget kakek saya dulu suka bikin juga.

    ReplyDelete
  51. tadi saya tanya, katanya nggak cuma dari tetangga

    ReplyDelete
  52. betul - saya juga surprise lihat orang segitu banyaknya

    ReplyDelete
  53. Ka,
    kalau Jumat pagi mau meliput - saya anterin dah,
    itu hari terakhir, sudah sejak sebulan lalu mereka bikin.

    ReplyDelete
  54. oh iya, memang ditimbang - itu yang setengah kilo,
    supaya standard ukurannya

    ReplyDelete
  55. oh sama ya,
    dulu jaman saya smp,
    ibu saya suka ngegoreng kue keranjang yang udah keras,

    baca postingan ini bikin saya inget lagi sama temen temen smp,
    saya suka dikasih kue keranjang bikininan omanya temen saya,
    bentuknya persis kayak gini, dibungkus daun pisang :P

    doh sweet memories pada bermunculan neh abis baca ini :P

    ReplyDelete
  56. Ini masih ada hubungannya sama yang punya roti Lauw?
    mohon pencerahannya pak :)

    ReplyDelete
  57. Pak, bingkisan kue keranjang harus model keluarga kue, "ada anak cucu :-)"
    di Kun Tien, tetangga memberi kue kernajang paling banyak dua buah.
    Kalo jatahnya satu renceng dari besar ke kecil orang di kampung saya harus tahu nih.

    ReplyDelete
  58. halo,
    saya baru tadi kenal/ketemu Ny.Lauw,
    trus Roti Lauw yang mana ?
    kalau di Tangerang adanya Roti Laun.

    ReplyDelete
  59. yang satu renceng kayak pyramid itu,
    rasa2nya buat sembahyang, bukan buat ngasih2,
    bener nggak ?

    ReplyDelete
  60. oo gitu yaa? ini roti dorong abang2 langganan saya yaa itu roti lauw sama satu lagi tan ek tjoan...
    2 merek roti yang udah jadul, tapi sampai sekarang masi exist

    ReplyDelete
  61. Mula2 sih ga tahu buatan siapa, tp dia yg bilangin ini kue keranjangnya Ny.Lauw-Tanggerang.Kebetulan sy suka yg dibungkus
    pakai daun pisang.
    Apakah masih bisa dibeli ?
    Bidikan foto2 pak dokter ini bagus sekali deh

    ReplyDelete
  62. Waktu pertama nilpon, bu Imong bilang semua sudah
    di order orang, dia menyarankan belinya di Pasar Lama itu,
    barangkali kalo kita ke pabrik beli satu dua biji sih bisa.
    Memang sedang di Indonesia ? - kalo dikirim ke Tokyo
    pake Fedex ongkosnya berapa ? he3
    TIKI selama ini nggak mau nerima kiriman makanan basah,
    kalau makanan kering seperti Bawang Goreng mereka mau.
    Besok pagi saya bisa nge-check ke PasarLama, sayang
    nggak punya nomer tilpon Asinan LanJin.

    ReplyDelete
  63. baru tahu bikin produksi massal-nya kayak gini. dulu nenek saya kalo bikin langsung pakai loyang gede dan dikukusnya berjam-jam...kalo udah jadi semua cucu ngantri buat jatah colek, sementara kalo udah lama gak ada lagi yang mau makan karena jadi keras, hehehehehe. duuh jadi kangen masa itu...

    ReplyDelete
  64. tglnya lucu.. kungfupanda.. :D
    itu lampunya menyalah terus ya, pengganti lilin..

    ReplyDelete
  65. indah deh hijau2.. tapi itu limbah? sampah kelapa? wah kalau diolah bagus tuh.. jadi kompos..

    ReplyDelete
  66. salam encimlauw.. sehat selalu ya..
    hebat masih ingat orangtuanya paksindhi.. ingatannya masih bagus ya..

    ReplyDelete
  67. buimong yang terima telpon paksindhi nih.. sibuk2 gitu..

    ReplyDelete
  68. masaknya masih pakai kayu bakar.. engga bisa ganti gas? kog gula pasir ya? bukan aren gitu?

    ReplyDelete
  69. wah timbangannya masih jaman dulu.. kerangjangnya plastik ya?

    ReplyDelete
  70. itu alat kukusan sejak jaman kapan? warisan ya?
    ternyata alatnya canggih juga..

    ReplyDelete
  71. 10 lantai.. berapa satu steam tuh keranjang?

    ReplyDelete
  72. kenapa harus kayu rambutan? ada berapa alat kukusan disana pak?

    ReplyDelete
  73. wah massal ternyata.. ini bagus buat mengurangi pengangguran.. masih manual..

    ReplyDelete
  74. berapa total pekerjanya? engga tiap hari bikin kue keranjang kan? hanya saat momen saja? imlek gitu?

    ReplyDelete
  75. rapi kaya pohon natal.. ditingkat gitu ada kisahnya?

    ReplyDelete
  76. 10 tingkat boh.. 10 nirwana ya? beda ukuran pula..

    ReplyDelete
  77. anak, mantu, sodara.. bekerja disitu juga.. hebat nih proyek keluarga..

    ReplyDelete
  78. eh yang ini pakai kompor minyak.. emang disana ga ada gas?

    ReplyDelete
  79. yang mengolah dodol pasti laki ya.. tenaganya lebih kuat.. pun panas deh.. bumbu penyedapnya juga keringat.. :D

    ReplyDelete
  80. kesana yuk frend.. jadi pengen ngerasain tuh dodol wijennya.. langsung dari sana..

    ReplyDelete
  81. wah oleh2nya.. ku suka tuh dodol paling kanan lapis wijen..

    bener banget kata kawandee.. mamaku juga suka ngegoreng dodol kalu sudah keras.. enak buat temen ngopi dan ngeteh.. biasanya juga mama suka dicampur buat kolak pisang, tinggal dipotong2..

    ReplyDelete
  82. Pak dokter, kebetulan teman jpn saya sedang bistour di Jkt.
    Dia akan balik ke jpn awal Feb.
    Jadi biasanya saya titip ( mumpung dia mau dititipkan, katanya kopernya kosong ga mau rugi dgn bagasi pesawat yg 30 kg itu.).
    Makanan yg pasti dibawa mpempe palembang, tempe, bawang goreng...kebetulan dia juga suka. Kalau kirim pakai fedex sih pasti ngga sampai krn sdh rusak dan akan dibuang oleh imigrasi..ha..ha..ha..
    Maaf ya jadi merepotkan .

    ReplyDelete
  83. ini dulunya bekas galian pasir yang begitu luas dan dalam,
    setelah pasirnya habis maka ditinggalkan dan lama2 tumbuh
    tanaman2 sulur yang menutupi permukaan air, memang banyak
    seperti ini di pinggir utara kota Tangerang, jadi rusak permukaan
    tanah disini.

    ReplyDelete
  84. waduh pertanyaannya segerobak he he,
    atuh nanya langsung aja deh disana, besok mau ?
    saya sudah janjian dengan pak Djenny mau ke pabrik kue itu
    jam 8.30 - besok Jumat, siapa mau bareng hayo.

    ReplyDelete
  85. besok saya ke pabrik dg pak Djenny,
    nanti coba ditanyakan apakah masih bisa beli

    ReplyDelete
  86. huaaaaaaaaaaahhhuhuhu.. besok tak bisalah paksindhi.. jam kantor kan.. pun sabtunya ada sepupu kawinan.. sibukbuk deh..

    selamat liburan kesana lagi ya pak.. hikkzz yang makan dodol wijen lagi.. selamat imlek.. selamat tahun baru kebo.. semoga sukses, sehat, bahagia buat paksindhi sekeluarga..

    ReplyDelete
  87. lha kan kerja mah bisa tiap hari -asal mau ajah,
    itu pabrik bikin kue keranjang kan setahun sekali,
    beda dong, ayolah nanti boss nya disogok pake
    kue keranjang ajah hehehe

    ReplyDelete
  88. wah say asuka sekali tuh yang nama nya wijen... pengen nyoba jug adodol wijen nya.. halal kan?

    ReplyDelete
  89. besok rencananya mau kesana lagi,
    nanti saya tanyakan soal itu.

    ReplyDelete
  90. wah, sungguh senang dapet info yg sgt bmanfaat, selama ini hanya tau mengonsumsi skrg bs tau proses pembuatannya. trimakasih buat pak sindhi yang mau berbagi info dan foto2 yang menarik, GBU

    ReplyDelete
  91. ini bagian yg paling berat, dulu pernah ngerasain waktu bantuin papa sya bikin kue keranjang...
    TFS om

    ReplyDelete
  92. Pernah ada yang ngasih nih dodol wijen Ny Lauw tapi baru tau kalo Tempatnya di Tangerang. Kira'in di daerah Kota.

    ReplyDelete
  93. Tadi saya ke sana lagi,
    kali ini sengaja beli Dodol Wijen itu,
    soalnya yg kemarin dalam sekejap "menguap".
    Hari Jumat ini terakhir bikin kue keranjang,
    dan sudah tidak menerima lagi pesanan,
    seluruh produksi sudah pesanan orang.

    Tadi ada yang ambil kue keranjang, kayaknya
    dari toko, dia bilang pemesan di tokonya sudah
    ngantri nunggu dari tadi katanya.

    ReplyDelete
  94. Udah deket Imlek yach Pak Sindh? Biasanya pas Imlek banyak deh yg jualan kue keranjang:)

    ReplyDelete
  95. Imlek lusa - Senin,
    makanya encim Lauw kebanjiran pesanan.

    ReplyDelete
  96. Pak, adonannya putih tp hasil akhirnnya kok jadi coklat tua ya? apakah gara2 proses pengukusan yg berjam2 merubah gula seperti karamel?

    ReplyDelete
  97. betul - dengan pengukusan selama 12 jam maka
    berubah jadi warna coklat.
    kata si Encim, kalau adonan air gula pasir-ketan itu
    hanya disimpan sebentar (mestinya minimal satu bulan,
    agar fermentasinya sempurna)),
    maka saat dikukus hasilnya tidak coklat malah bening saja.

    disana ada juga yang aneh, segitu banyaknya kue yang begitu
    manis didalam tempat penyimpanan itu, tidak terlihat ada semut.
    si Encim mengiyakan saat ditanya, barangkali karena didalam
    pabrik itu udaranya panas, krn begitu banyaknya tungku api

    ReplyDelete
  98. Wah kalo oleh2nya mo di-bagi2 boleh juga nyobain nih... Pasti aku juga ga berani nolak he..he..he.. Tapi jangan terlalu banyak makan dodol en kue keranjang dong ... Bisa2 2-3th lagi ga bisa makan rambutan tuh ....

    ReplyDelete
  99. pak sindhi, gong xi fa cai yaaakkk... btw, bener2 kunjungan yang membawa berkah ya, pak. psati enak tuh kuenya. kebetulan saya (walopun ga ngerayain imlek) juga kebagian kue keranjang hari ini, tapi produksi jogjaaaa :p

    ReplyDelete
  100. Om sindhi, aku baca kemarin ttg pabrik kue keranjang ini di kompas.
    wah, Om dokter dapat kue keranjang dong kemarin. bagi2 dong..:D
    thanks utk artikelnya.

    ReplyDelete
  101. dear Tuti,

    makasih,
    produksi Jogya juga mestinya nggak beda2 banget,
    kan bahan2nya nggak rumit

    ReplyDelete
  102. ada di Kompas juga rupanya yah.
    tadi siang saya lihat di TV liputan
    di pabrik Encim Lauw,
    si Encim juga di tampilkan.

    ReplyDelete
  103. berapa harganya kalau yg model gini?
    jutaan mungkin yah?

    ReplyDelete
  104. busyet deh jutaaan ?! - nggaaak atuh,
    paling beberapa puluh ribu saja,
    kalo nggak salah kue ini 17 ribu/kg,
    setumpuk itu paling2 beratnya 5 kilo.

    ReplyDelete
  105. hai Om

    KIONG HIE dulu nih,,,, bom cap go meh , masi bole kan
    dah lama ga nengokin multiply, emng Tangerang heritage city ya, pengen banget beli kue keranjang original bgn, bungkus daun emng memberi efek tersendiri ketimbang yg plastik.
    btw ntar cap go meh ada acara ga di tangerang?

    best regards

    YULU

    ReplyDelete
  106. hallo,
    KiongHie juga, masihkeburu yah, he3.
    CapGoMe di Tangerang sayang nggak ada
    acara apa2, biasanya Bogor dan Sukabumi
    yang ada keramaian.

    salam
    sm

    ReplyDelete
  107. ugh... keren bgt potonya... lebih keren lagi pabriknya... ribet bgt yah bikinnya....

    ReplyDelete
  108. Thanks infonya! foto2ny sangat informatif

    ReplyDelete
  109. wuah.. thank u ya..... pengen beli neh jadinya :)

    ReplyDelete
  110. sekarang sudah mulai banyak pesanan biasanya

    ReplyDelete
  111. pastinya.. pintu air tangerang itu arahnya kmn ya? :)
    dr BSD ne :)

    ReplyDelete
  112. merindukan tangerang dan segala macam makanan di pasar lama :)

    makasih :)

    ReplyDelete
  113. dari BSD ? masuk Tangerang anda lewati boulevard yang
    tengah2nya ada pagar besi hijau tinggi, dikanan jalan ada
    RS Global - Carrefour, dikiri ada pom bensin Shell.
    maju dikit dari Shell ketemu fly over, setelah kolongnya
    belok kekiri sehingga nanti akan circle dan naik keatas
    jembatan flyover itu. terus saja sehingga nanti dikiri ada
    pompa bensin Pertamina, setelah itu belok kiri dan
    masuk boulevard yang ditengahnya ada pepohonan.

    ikuti jalan itu sampai nanti nyebrangi rel KA, masih maju
    sampai jalannya mentok - ketemu arus lalin dari depan ,
    nah pas mentok itu harus kekiri dan kini ada sungai kecil
    dikiri jalan, ikuti trus sampai sungai itu habis dan disitu
    ada pertigaan besar dimana harus belok kekanan,

    setelah kekanan segera ambil jalur paling kiri karena
    sekitar 200 meter harus kekiri masuk ke jembatan Pintu Air.

    berikutnya ikuti petunjuk seperti yg saya tulis di cerita saya
    datang ke tempat tersebut.

    janan lupa nilpon dulu kalau mau beli karena sering2 sudah
    pesanan orang semua.

    ReplyDelete