
| Rating: | ★★★★★ |
| Category: | Books |
| Genre: | Biographies & Memoirs |
| Author: | Agustinus Wibowo |
Kalau umumnya traveler memilih mengunjungi tempat yang menarik, mudah
dijangkau dan pastinya aman, maka traveler satu ini sungguh berbeda.
Agustinus Wibowo, pemuda 28 tahun asal Lumajang ini kalau traveling bukan
saja backpacker-an ke lokasi2 yang eksotis/unik seperti Mongolia/Uzbekistan
tapi juga masuk kewilayah yang sulit dan sangat rawan seperti Afganistan.
Petualangan memasuki Afganistan itu bukan sekedar satu dua hari sampai
ke ibukota Kabul saja misalnya, tapi bulanan keberbagai pelosok negara.
Semua itu dijalani karena jiwa petualangan yang berpadu dengan semangat
jurnalisme yang menggebu, yang membawanya sampai ke Kandahar - kota
basis Taliban diselatan Afganistan yang tidak sembarang orang berani datang.
Dia juga ke Bamiyan untuk melihat puing patung kuno Buddha yang di dinamit
Taliban - disitu dia tidak menyangka kalau lahan yang dilaluinya adalah ladang
ranjau, untung saja dia selamat.
Perjalanan menarik lainnya adalah saat menelusuri Koridor Wakhan yang unik
sekali karena wilayah sempit yang menuju ke China itu berbatasan dengan
Tajikistan dan Pakistan disisi lainnya.
Perjalanan didaerah pegunungan dan menyebrangi sungai itu berat sekali,
jalan begitu rusak dan kendaraan yang digunakan sudah tua, malah dia sempat
tidak sengaja berjalan kaki sampai sekitar 9 jam karena penduduk yang ditemui
selalu bilang sudah dekat, padahal ternyata 40 kilometer jauhnya.
Disitu dia tidak berhasil memasuki Tajikistan, tapi berikutnya saat mengarah ke
barat dia berhasil memasuki wilayah Iran sampai ke Teheran.
Begitu lama berada di pedalaman Afganistan yang dihuni berbagai etnik seperti
Pashtun, Hazara, Uzbek dan lain-lain, Agustinus bisa menyerap silang pendapat
tentang politik, agama, pemakaian Burqa dan lain-lain, maklum saja wilayah
itu silih berganti penguasa/penjajah mulai dari Iskandar Agung, orang Mongol,
Komunis Soviet, Taliban sampai penguasa sekarang.
Keberaniannya ber-petualang itu bukan tanpa risiko, dia harus menginap di
tempat2 rawan dan sangat kotor, beberapa kali ditipu dan kecurian uang,
dipukuli polisi Kabul karena dicurigai teroris, sampai hampir disodomi pemuda
yang tadinya tampak baik hati memberikan tempat menginap.
Pengalaman yang direguknya di perjalanan itu telah ditulisnya dalam bentuk
laporan petualangan yang disampaikannya dengan unik sekali karena berupa
campuran sastra dan sejarah dengan jurnalisme.
Sebagian ceritanya itu pernah dimuat serial di kolom petualang kompas on-line,
dan bulan Januari 2010 telah dibukukan dengan judul Selimut Debu.
Saya telah membaca habis buku setebal 461 halaman yang dibandrol seharga
Rp. 69.000,- dan saya sungguh setuju dengan pendapat di kata pengantar yang
mengatakan bahwa Agustinus Wibowo bukanlah sekedar traveler yang datang
ke satu tempat, lihat2, motret2 dan pulang, tapi dia adalah seorang explorer.
Memang dengan membaca buku ini kita serasa ikut dibawa berkelana ke
berbagai sudut/ wilayah Afganistan yang begitu sulit medannya dan rawan sekali.
Sambil menyerap suasana kehidupan keseharian berbagai suku/etnik yang bisa
berbeda pandangan politik maupun pemahaman agama.
Sayangnya buku ini sampulnya kurang eye catching, dan saya lihat dibeberapa
toko buku Gramedia (Mall Taman Anggrek dan Summarecon Mall) tidak dipajang
di rak buku baru, sayang sekali - terbenam di rak buku grup Novel !
Saya sempat memberitahu tentang itu kepada Agustinus yang kini berada di
Beijing, dan dia sudah meneruskannya ke fihak Gramedia - yang mengontak
ke dua toko buku itu untuk menaruh di rak buku baru.
Mudah2an teman yang ke Gramedia lainnya bisa tolong juga melihat apakah
disitu buku Selimut Debu sudah diletakkan di rak buku baru, kalau belum
mohon bantuannya memberitahu saya via japri, nanti saya teruskan ke Agus.