Tuesday, November 22, 2005

Mencicipi Emperor Tea : Mei Jia Wu Tea Village - HangZhou




Mencicipi Emperor Tea : Tea Village - Mei Jia Wu, Hangzhou

Saat memasuki kota HangZhou, local guide memberikan penjelasan
bahwa kota kuno ini yang mempunyai banyak julukan, mulai dari :
Heaven on Earth ( konon karena saking indahnya kota ini, membuat
orang2 disana jadi pada males kerja katanya).
dan ternyata juga dijuluki : Capital of tea in China.
Hangzhou yang pernah menjadi salah satu dari tujuh ibukota kuno
China, memang terkenal dengan Teh Hijau-nya.
Lokasi perkebunan teh yang paling kesohor disana adalah
Mei Jia Wu Village, sebuah Tea Village yang hanya 20 menit
berkendara dari danau Xi-Hu yang sangat cantik melegenda.

Perjalanan ke Village itu melalui jalan kecil yang nge-pas dua mobil
saja berpapasan, tapi jalannya bagus sekali dengan pemandangan
kiri kanan didominasi gunung hutan dan tentunya juga pohon teh.
Udara sejuk dan bersih sekali, cocok untuk perkebunan teh, dan
konon penduduk Village dengan 500 KK ini rata-rata panjang umur.

Setiba di Village itu, bus kami kesulitan parkir karena banyak
sekali bus turis sudah parkir disana.
Sebelum memasuki bangunan bergaya China kuno yang besar,
kami diajak melihat cara tradisional mengeringkan daun teh.
Disuatu gubuk, ada seorang pria menghadap sebuah kuali besi
besar yang tampak panas sekali, didalam kuali tersebut tampak
daun teh yang sedang dikeringkan.
Tapi alamak !!, ternyata si pria itu mengaduk2 daun teh itu pakai
tangan telanjang !!
Padahal suhu kuali besi itu 120 derajat C.
Ternyata agar daun teh itu mengering dengan sempurna, maka
suhunya harus berkisar 80 -100 derajat C.
Yang bisa dijamin pas kalau memakai tangan telanjang, kalau
memakai alat tentunya feeling-nya tidak setepat memakai
tangan telanjang.
Karena itulah 8 jam kerja hanya dapat mengeringkan 3 kilo saja.

Kami kemudian diajak memasuki kamar dimana ada meja dan
peralatan minum teh.
Lalu diedarkan cawan kecil, diisikan daun teh dan kemudian
sedikit air panas dituangkan kedalam cawan.
Menyadari semua keheranan kenapa air yang dituang cuma sedikit,
maka pegawai Tea Village itu memberi tahu bahwa itu disengaja
dan kami dipersilahkan untuk mencium dahulu aroma dari teh
yang diseduh barusan itu, dan silahkan tebak apa aromanya.
Oooh gitu, lalu rame2 mencium dan semua bengong dan sepakat
bahwa aromanya adalah ...... wangi kacang hijau !!

Lalu si pegawai menuangkan lagi air panas dari ceret, dengan cara
yang unik sekali.
Air tidak dikocorkan brek sekaligus seperti lazimnya, tapi :
sambil ceretnya di-angguk2an - tanda menghormati tamu katanya.
Air panas itu suhunya harus 85 - 90 derajat C, kalau lebih maka
antioksidan dari teh-nya bisa hilang.

Selanjutnya diterangkan bahwa kwalitas teh disana bervariasi,
tergantung kapan dipetiknya, apakah saat Spring, Autumn atau
Summer.
Saat terbaik mendapatkan teh kwalitas utama yang disebut
Emperor Tea adalah yang dipetik sekitar bulan Maret dimana
daun teh baru saja bersemi.
Teh Raja itu dibandrol 900 Yuan setiap setengah kilo-nya.

Saat dalam perjalanan dari HangZhou menuju kota Suzhou,
kami mampir disebuah toko teh yang besar.
Kali ini disuguhi teh lain - bukan seduhan daun teh tapi bunga,
yaitu teh Tong Xiang ( bunga Chrysant/Cwie Hwa ).
Sempat bingung juga melihat dalam gelas kita ada bunga yang
terapung, sempat saya berfikir apa iya enak rasanya -
ternyata memang enak dan terasa eksotis dilidah.



Monday, November 21, 2005

Perjalanan ChinaKorea 2005, part 1 : Menuju GuangZhou.


 


 


Minggu pagi 30 Oktober 2005,
saya sudah duduk di ruang tunggu keberangkatan bandara Soekarno Hatta,
sambil mengingat-ingat proses persiapan perjalanan saya dan istri yang
kali ini rada ribet juga.
Sejak awal kami kesulitan memilih daerah tujuan, gonta ganti terus.
Semula ingin ke Myanmar dan Laos - engga jadi karena sebagian calon
peserta tour mengundurkan diri akibat ada ledakan bom di Yangoon.
Ganti mau pergi ke Kashmir, eh juga terjadi teror bom di Srinagar.
Kemudian ada yang ngajak ke Balkan, tapi udah keburu musim dingin
yang selalu saya hindari, maklum penakut sama hawa dingin.
Akhirnya istri saya bilang ke China lagi saja deh, dan sekalian nyambung
ke Korea katanya.


OK, asal ke China-nya engga ke tempat2 yang sudah pernah didatangi,
dan juga asal di Korea-nya bisa masuk ke The Third Infiltration Tunnel
dan DMZ .
Seperti diketahui perang saudara antara kedua Korea, yang berkecamuk
antara tahun 1950 -1953, sebetulnya sampai sekarang secara resmi
belum pernah berakhir atau bersepakat damai.
Yang ada hanya kesepakatan membentuk DMZ saja -
Demiliterized Zone, yang membentang sejauh 248 kilometer membelah
Korean Peninsula, lebar DMZ empat kilometer - masing-masing
dua kilometer dari truce line.
Karena resminya perang belum usai antara kedua Korea itu,
maka terkenal :
The DMZ is the most fortified border on earth that only Korea can offer !!


Saya memang udah lama naksir banget untuk bisa masuk ke Third Tunnel -
salah satu dari empat terowongan rahasia Korea Utara yang panjangnya
1635 meter dan dibuat pada kedalaman 73 meter dibawah tanah.
Ukurannya dua kali dua meter, sehingga dalam waktu satu jam saja bisa
melewatkan satu divisi tentara, yang muncul dibelakang garis pertahanan
Korea Selatan di DMZ itu.
Untung saja adanya tunnel itu sempat ketahuan fihak Korsel.
Kalau tidak maka tunnel itu bisa dipakai untuk suatu surprise attack
terhadap Seoul yang jaraknya hanya 52 km.


Akhirnya rutenya cocok, yaitu akan mengunjungi kota2 sekitar pantai
timur mainland China antara lain Dalian (kota cantik bernuansa Eropa),
HangZhou ( kota kuno yang dijuluki Heaven On Earth),
SuZhou ( kota kuno juga, yang terkenal sebagai Kota Air -
Venesia di Timur).


Pengumuman untuk memasuki pesawat memutus renungan saya,
dan penumpang dengan tertib memasuki cabin pesawat B757 dari
China Southern - yang mempunyai motto : "Home in the air"
Memang penumpang nantinya akan mendengar suara merdu
yang mengatakan :
Ladies and gentlement,welcome to China Southern's Home in the Air.


Tapi apa yang saya alami malah berbeda,
AC bukan saja kelewatan dingin-nya ngalahin kulkas, juga suaranya
begitu gemuruh kayak kita lagi berada di kaki air terjun Niagara aja.
Sampai2 saking kaga nahan berisiknya, saya ambil tissue basah,
sepotong kecil di-gulung2 dan dipakai nyumpel kedua liang telinga.
(jadi inget film Mr.Bean).


Di China ada banyak Airline, kayaknya tiap propinsi disana punya,
antara lain Xinjiang Airline, Shandong Airline, China Eastern, dll.
Tapi China Southern kayaknya yang paling besar.
Lihat saja data2-nya :
dia mempunyai  252 mid to large sized modern jet aircraft yang
terdiri dari berbagai jenis pesawat, antara lain :
Boeing 777  - 757 - 747 - 737 - Airbus A 330.


China Southern ini mempunyai 17 transportation based dan
700 flight routes - luar biasa !!.
Pokoknya inilah The Largest Airline in China dalam hal :
fleet, flight routes, maupun annual passenger volume 
(tahun 2004 : mengangkut 40 juta penumpang -
sehingga masuk top 10 world leading passenger volume).


Masih ada kehebatan lainnya lagi, China Southern telah memesan
10 buah B-787 Dreamliner :
pesawat twin engine yang akan memanjakan penumpangnya karena
lebih comfort : cabin lebih luas, higher humidity level.
Direncanakan first delivery pesawat ini July 2008 agar bisa dipakai
dalam menyambut  2008 Summer Olympic Games di Beijing nanti.


Rupanya masih belum puas, China Southern juga sudah memesan
5 buah Airbus dari seri A380 yang mempunyai 555 seater -
ini largest aircraft dan world's first double decker passenger jet.
Jangkauan nya  8.000 -15.000 km, sehingga bisa easily terbang -
nonstop jarak jauh.


Menjelang sore pesawat mendarat di airport GuangZhou yang baru :
Baiyun Airport - yang konon besarnya dua kali airport HongKong,
itupun masih akan bangun lagi tahap dua, sehingga menjadi airport
10 terbesar didunia.
Sambil berjalan didalam airport yang kelihatan lega sekali itu,
seorang teman yang mengerti tehnik bilang, coba you lihat mereka
bisa bikin bentangan atap yang begini jauh tanpa tiang, memang
buatannya masih rada kasar, tapi itungannya mantap sekali.


Airport baru ini berjarak 40 kilometer dari kota GuangZhou,
dihubungkan dengan highway yang lebar :
4 lane plus 1 untuk darurat setiap arahnya..
Karena setiba di GuangZhou kami makan malam dulu maka tiba
dihotel sudah agak malam.
Sehingga walaupun Hotel Canton Mountain Villa tempat kami
menginap terletak persis diawal Beijing Road -
satu daerah perbelanjaan yang paling kesohor di GuangZhou -
kami lebih memilih untuk istirahat saja.



bersambung : menuju Dalian - kota cantik bernuansa Eropa.

Saturday, October 15, 2005

Melihat Samudra Atlantik bertemu dengan Samudra Hindia : Cape Town.




Melihat Samudra Atlantik bertemu dengan Samudra Hindia :

Larut malam kami baru tiba di Cape Town dari Sun City/Johanesburg,
sehingga setelah makan malam segera beristirahat, apalagi karena esok
pagi-pagi sekali akan mulai tour yang sangat menarik yaitu mengunjungi
Seal Island, Tanjung Harapan, dan Table Mountain.

Seal Island menjadi tujuan banyak turis karena pulau unik itu dipenuhi
Anjing Laut, sedangkan Tanjung Harapan adalah Ujung Terbawah
dari Benua Africa dimana dari lokasi Mercu Suar disana bisa melihat
kearah selatan yang merupakan pertemuan dua samudra yaitu
Samudra Atlantic dan Hindia.
Table Mountain juga unik sekali karena dindingnya begitu tegak lurus,
tidak ubahnya sebuah balok es raksasa yang diberdirikan diatas salah
satu sisinya.

Pagi-pagi sekali hari bus sudah berangkat, menelusuri pantai tepi barat
benua Africa itu dengan pemandangan kearah Samudra Atlantic.
Perjalanan yang mengarah ke selatan itu sekitar satu jam, dan tibalah
kami disebuah pelabuhan kecil yang berada di sebuah teluk yang
cantik sekali. (foto).

Kami beruntung sekali karena saat tiba disitu cuaca sedang baik,
kalau saja berangin/ombak besar biasanya tour ke Seal Island
dibatalkan.

Dengan sebuah kapal motor kami berlayar menuju mulut teluk,
disana ada sebuah gugusan pulau karang yang gundul.
Kami semua terpana melihat pulau itu seakan menghitam karena
dipenuhi anjing laut yang sedang asyik berjemur.
Kami dibawa begitu dekatnya, sehingga bisa melihat dengan jelas
ratusan anjing laut yang sedang nyantai itu .(foto)

Kemudian kami meneruskan perjalanan makin keselatan lagi dan
tibalah di Cape Point atau Tanjung Harapan, yang merupakan
ujung paling bawah dari Benua Africa.

Turun dari bus, dikejauhan tampak sebuah MercuSuar kuno yang
berada dipuncak sebuah bukit, dari tempat ketinggian itulah kami
mencoba ber-imaginasi melihat adanya pertemuan air laut dari
Samudra Hindia dengan Samudra Atlantic.(foto)

Konon bisa terlihat perbedaan warna dari air kedua samudra,
yang diakibatkan oleh perbedaan suhu dan kadar planktonnya.
Tapi sayang sekali walaupun saat itu kami sudah berusaha
melihat dengan se-baik2nya tapi tetap tidak bisa melihat batas
air kedua Samudra tersebut.

Masih dari lokasi mercu suar itu, kami bisa memandang kearah
utara, tampak Tanjung yang sempit - yang diapit oleh Samudra
Atlantic disebelah kirinya dan Samudra Hindia disebelah kanan.
(foto)

Setelah makan siang dengan menu lobster yang nikmat sekali,
kami kembali ke Cape Town dan dengan cable car naik ke
Table Mountain - gunung batu yang lumayan tinggi berbentuk
tidak ubahnya sebuah es balok raksasa.
Dindingnya yang tinggi begitu curam sehingga hanya dengan
mempergunakan cable car orang bisa naik keatasnya.(foto)

Setiba di stasiun atas cable car itu, ternyata memang bagian
atas gunung itu seperti meja - datar sekali. (foto)

Pemandangan dari puncak gunung ini kearah Samudra Atlantic
dan kota Cape Town sangat indah, kota tampak kecil dibawah
karena gunung itu cukup tinggi (foto),
Kami harus cepat-cepat mengambil foto dengan latar belakang
kota Cape Town, karena sesekali angin keras yang dingin
cepat sekali membawa awan menutup pemandangan cantik itu.

Sayang kami tidak bisa berlama-lama disana, angin bertiup
makin keras sehingga sirene dari stasiun cable car itu berbunyi.
Ini tanda peringatan agar para pengunjung segera kembali ke
stasiun atas itu dan naik cable car untuk turun ke stasiun bawah.

Kalau angin bertiup makin keras, maka cable car akan stop
beroperasi, artinya yang telat turun bisa-bisa nginap diatas
gunung sepi itu -
Wuuah siapa yang sudi nginep disitu, cepat-cepat kami turun.

Tuesday, October 4, 2005

Masuk Gua Jepang dan Gua Belanda di Bandung.


 


Lama - lama bosen juga kalau hari Minggu di Bandung kegiatan
lagi-lagi keluar masuk Factory Outlet atau berburu Brownies Kukus.


Maka begitu dengar Wimpie bilang bahwa di Dago ada Gua Jepang
dan Gua Belanda maka saya dan istri langsung setuju kesana -
apalagi dibilang dari situ bisa lanjut jalan kaki sampai ke Maribaya.


Pagi hari kami berempat tiba di Taman Hutan Raya Ir.H.Djuanda -
Dago Pakar, dan ternyata mobil boleh masuk ke kawasan itu -
lumayan deh bisa menghemat dengkul, tiket masuk mobil 5000,-
dan orang 3000,-


Hanya berselang beberapa menit saja berkendara dari pintu masuk
Taman Hutan Raya, sudah terlihat petunjuk dikiri jalan : Gua Jepang.
Maka kami turun dan mulai jalan kaki memasuki hutan dan ternyata
tidak lama sudah tiba di tujuan.
Disebelah kiri jalan terlihat tebing padas, disitu ada beberapa lubang
masuk Gua yang lumayan besar. (foto)
Beberapa orang menyambut kami dan menawarkan sewa flashlight -
tapi kami tolak karena kami sudah membawanya.
Kami mulai memasuki lubang yang paling besar, dan walaupun
didalam gua itu gelap gulita tapi gua itu bersih dan tidak pengap.
Kami berjalan lurus terus melewati  persimpangan2 dan disana-sini
ada ruangan2 dikiri kanan terowongan.
Setelah ketemu ujung gua yang buntu maka kami mulai menelusuri
bagian gua lainnya yang dibuat memotong lorong utama itu. (foto)
Memang lumayan seram didalam sana, tapi Gua Jepang di Bukittinggi
jauh lebih besar dan lebih seram.


Setelah puas lihat2 dan foto2, kami kembali ke mobil dan melanjutkan
perjalanan, dan hanya beberapa menit sudah sampai di Gua Belanda,
disitu mobil harus diparkir karena jalan buntu. (foto)


Gua Belanda ini dibangun tahun 1918, awalnya dibangun untuk jadi
terowongan air utama PLTA Bengkok, tapi karena pecah perang
malah menjadi Ruang Komunikasi, dan pada perang Kemerdekaan
menjadi Gudang Senjata dll. (foto)


Gua Belanda ini tidak se-seram gua Jepang karena dinding dan
lantainya terlihat disemen rapih.
Ternyata Gua ini dibuat menusuk kedalam perut gunung sejauh
144 meter sampai tembus ke sisi lainnya gunung itu.
Gua ini juga didalamnya ada ruangan2, antara lain ruang interogasi !!


Setelah tembus kesisi lain dari gunung maka mulailah kami menuju ke
Maribaya dengan menapaki jalan con-block yang lumayan rapih.
Mula-mula memang enak - udara pagi yang sejuk bersih bebas polusi,
kerimbunan hutan pinus yang menyegarkan hati membuat kami
berjalan dengan santai dan sesekali seiring atau berpapasan dengan
rombongan lain.
Tapi jalan makin banyak menanjak, dan mulailah ngos2an kalau
ketemu tanjakan yang panjang. (foto)


Setelah sekitar 30 menit berjalan itu, saya sempat bertanya kepada
seorang bapak yang berjalan pulang/berlawanan arah -
Pak masih jauh engga sih ke Maribaya ?
Ah engga, paling empat tanjakan lagi katanya sambil senyum2.
Wuah saya tentu engga percaya, jangan-jangan malah empat belas
tanjakan lagi nih.
Ternyata benar, empat tanjakan terlewat tapi bau2nya Maribaya
kaga kecium sedikitpun - hanya terlihat hutan pinus, sesekali ada
persawahan dan jurang yang lumayan dalam.


Sempat terfikir mau nyerah saja, tapi malu hati juga sih kalau engga
sampai ke tujuan.
Akhirnya setelah berjalan lebih dari satu jam tibalah kami disebuah
jembatan yang melintasi sungai deras yang cantik alami.(foto)


Tak lama berjalan lagi terdengar sayup2 suara gemuruh air terjun
dan akhirnya sampailah juga kami di kawasan wisata Maribaya -
disini harus bayar tiket masuk lagi.


Setelah duduk2 sekitar setengah jam sambil melihat Twin Falls
yang lumayan tinggi itu, maka sekitar jam 11 kami berjalan kembali
dan tentunya perjalanan balik itu lebih ringan karena lebih banyak
menuruni gunung.


Setiba kembali di Gua Belanda, saya sempat tanya ke petugas parkir :
Pak, berapa jauh sih dari sini ke Maribaya ?.
Oh lumayan pak, sekitar 5 kilometer !!


Whoaa, jadi pulang balik tadi 10 kilometer !!?? -
itu sih sama aja jalan dari Tangerang ke Cengkareng !!
Pantes dengkul hampir copot ! .


Saat kami baru saja berkendara lagi beberapa puluh meter
meninggalkan Gua Belanda, dipinggir jalan terlihat ada orang jualan
pakai pikulan bumbung bambu besar.
Mang jual apa tuh ?
Lahang !!
Oh rupanya Air Gula Aren. Ini minuman langka juga nih !
Berapa segelasnya Mang ?       2000,-
OK nyoba deh - lalu si bapak itu dengan sigap menuangkan air
berwarna kekuningan kedalam gelas dengan cara memiringkan
bumbung bambu besar itu.


Wuaaah, enaknya air manis dengan rasa caramel bakar itu,
terasa menyegarkan sekali badan yang sudah loyo ini.



 Foto lengkap di :


http://smulya.multiply.com/photos/album/67
http://smulya.multiply.com/photos/album/68
http://smulya.multiply.com/photos/album/69

Alam cantik antara Gua Belanda Dago - Maribaya




Jalan kaki antara Gua Belanda Dago yang tembus ke Maribaya.

Menembus Gua Belanda : Dago - Bandung.




Nengok Gua Jepang di Dago - Bandung.