Saturday, January 8, 2011

Intisari, edisi Januari 2011 : Terpukau Bentangan Alam Nepal.

Dalam majalah Intisari Januari 2011, bisa dibaca
cerita perjalanan saya ke Nepal, berjudul :
 Terpukau Bentangan Alam Nepal.

Tiga cerita lainnya yang pernah dimuat di Intisari :

Santorini : Puisi Alam nan Romantis
http://smulya.multiply.com/photos/album/156
 
Dubrovnik - Mutiara Cantik Ditepi Adriatic
http://smulya.multiply.com/photos/album/192
 
Sarajevo – Kota yang dalam seabad tiga kali memukau dunia.
http://smulya.multiply.com/photos/album/277/ 

Wednesday, December 15, 2010

Alex di Majalah Tempo




Majalah Tempo
Edisi 13-19 Desember 2010 halaman 70-71.
Iklan Pazia Store.

Sunday, December 5, 2010

Warung Pengkolan - Lempah Ikan Pari ala Bangka.




Teringat artikel Kedai majalah Kontan edisi Oktober 2010,
berjudul Paduan Tiga Sensasi Rasa dalam semangkuk Ikan Pari,
Minggu pagi ini saya tilpon Warung Pengkolan itu, tapi ternyata
bukanya tidak dari siang hari, paling cepat jam 16.

Tadinya rencana makan siang dulu disitu baru melihat pembukaan
pameran fotografi teman di Cemara Gallery Menteng.
Padahal udah kebayang bakal menikmati lezatnya ikan Pari masak
Lempah yang ala Bangka yang diceritakan di Kontan itu.
Lempah Pari merupakan masakan unggulan disana katanya, ikan
pari-nya selalu pilihan dan segar, dengan bumbu gula-cabai dan
asam Jawa didapatlah tiga rasa itu.

Di Kontan itu memang diceritakan Kedai yang berdiri sejak 1997 itu
kecil saja, tidak memiliki nama, lokasinya juga persis di pengkolan.
Kalau kita menyusuri Jalan Panjang (Pejuangan) menuju Pesing,
maka setelah melewati fly-over jalan tol Tomang maka akan ketemu
perempatan yang ada traffic light, kalau belok kekiri maka kedai
itu persis di pengkolan ngadep ke tiang lampu lalu lintas.
Walau jadi disebut Warung Pengkolan, jangan harap menemukan
papan namanya.

Gagal ke Warung Pengkolan, berdua dengan istri tetap ke Menteng
dan sudah sekalian jalan pulangnya mampir ke Mall Taman Anggrek,
sempat makan Rujak Juhi Depot Betawi di Food Courtnya yang
kayaknya sih Rujak Juhi terenak se jagat raya.

Sekitar jam 16, kami berkendara pulang, saat melewati jalan Arjuna
Utara, mendadak ngeh - tidak jauh didepan adalah lokasi Warung
Pengkolan itu, dan ini kan sudah lewat jam 16.
Maka jadilah menuju kesana.

Traffic light perempatan itu mudah ditemui, tapi saat belok pelan2
kekiri sambil melototi rumah2 disisi jalan - tidak ketemu, sampai
akhirnya kami parkir dihalaman sebuah deretan ruko.
Untung tukang parkirnya mantan pegawai Warung itu, kelewat pak
katanya, jalan kaki aja deket sekali koq.

Memasuki Warung yang memang tampak sederhana tapi bersih,
belum ada tamu lain, kami dipersilahkan memilih sendiri ikannya.
Walau bisa pesan macam2 sea-food, tapi sesuai rekomendasi
Kontan kami pesan Lempah Ikan Pari, dan Ikan Pari asam pedas,
yang dibandrol sama yaitu Rp.25.000,-/porsi.

Empunya Warung langsung memasaknya didapur yang menyatu
dengan ruang makan yang tidak terlalu luas itu, rupanya kalau
Lempah itu masakan kuah, maka yang asam manis kuahnya
lebih kental ditumis.

Untuk pertama kalinya kami makan ikan Pari, terasa lembut gurih
nggak ribet karena tidak ada tulang2 halus, Lempahnya memang
sedap asem manis.

Saat disana mungkin karena masih sore tidak ada tamu lain, tapi
Kontan bilang tamunya sehari sekitar 50 orang, dan dalam sehari
bisa menghabiskan 30 kg ikan Pari.


Warung Pengkolan
Jl.Kedoya Duri Raya No: 26 Kedoya - Jakarta Barat.
Telp: 021-58301113.
Buka dari jam 16.00.

Sunday, November 28, 2010

Rumah Kayu Goen




Minggu pagi, 28 Nopember 2010 kebetulan baca Kompas dihalaman 27,
ada artikel berjudul atraktif : Makan siang di "Kandang Kebo".
Ternyata itu bangunan tua usia 100-an tahun yang merupakan salah satu
dari tujuh bangunan kayu lain di dalam komplek rumah milik Gunawan W.

Tepat didepan bangunan bekas kandang yang kini difungsikan sebagai
gubuk tempat makan, ada rumah kayu khas China Benteng.
Didalam rumah kabarnya banyak terdapat barang2 antik, dan juga terdapat
telaga kecil yang berdampingan dengan pesawahan yang menghijau.
Dihalaman juga berserakan barang2 kuno dan ada rumah kayu yang di-
jadikan gallery.

Membaca artikel yang menarik itu, berdua dengan istri setelah dari Mie 88
di Gading Serpong kami menuju ke Rumah Kayu Goen itu, nekat saja hanya
berbekal alamat Kp Cipari, Desa Panongan - Cikupa.
Sempat saya lihat di peta dan mendapat gambaran bahwa lokasinya kira-kira
diselatan Perumahan Citra Raya.

Perjalanan lancar, kami memakai jalan tol kearah Serang, exit di Bitung lalu
lewat jalan biasa menuju Cikupa, hanya 20 menit dari Lippo Karawaci sudah
tiba didepan gerbang perumahan Citra Raya.

Memasuki boulevard, kami menelusuri boulevard itu sejauh sekitar 6 kilometer,
lurus terus nyaris tidak belok2, setelah dekat Sekolah Citra Berkat yang besar,
baru belok kanan melewati Pos Polisi Polsek Panongan.

Akhirnya ketemu pertigaan jalan desa, sempat bertanya ke warga setempat,
ternyata persis di pertigaan itu ada papan nama jalan : Rumah Kayu Goen,
kami belok kekiri.
Jalan aspal kini agak sempit dan sedikit rusak, dan sekitar 1 kilometer terlihat
jalan kecil dikanan dengan gerbang/gapura.

Kami disambut penjaga dan seorang wanita yang rupanya memang siap untuk
menerima tamu yang berkunjung, pak Goenawan sendiri rupanya tinggal di
Tomang dan biasanya lewat tengah hari baru datang.

Parkir cukup luas di komplek yang rimbun pepohonan, dikanan terlihat lumbung
padi yang rupanya difungsikan untuk kamar tamu, sebuah mesin diesel kuno
warna hitam gagah menjaga halaman.

Rumah China Benteng dengan meja abu persis setelah pintu utama, dan
dibelakangnya masih ada satu ruangan lagi sebelum ruang belakang yang luas.
Didalam kamar tidur ada ranjang kuno yang masih pakai kelambu.

Disebelah rumah kuno ini ada rumah kayu lain yang isinya banyak barang antik,
rupanya jadi gallery/toko.

Kami kemudian jalan menuju kebelakang dan sampai ditepi telaga kecil yang
asri, ada getek yang bisa membawa kita menuju sebuah gubuk ditengah telaga
yang katanya dipakai untuk menenangkan diri, memang suasana mendukung
untuk tenang disitu sambil memandang hijaunya pesawahan disebelahnya.

Sayang pak Goen tidak sempat jumpa, tapi dari name-card yang diberikan
saya sempat menilponnya, dan beliau welcome bagi siapapun yang ingin
datang berkunjung, termasuk rombongan Jalansutra.

Dari pak Goen saya baru tahu kalau pak William Wongso udah duluan sampai
kesana, demo masak masakan Benteng katanya di "Kandang Kebo".

Rumah Kayu Goen
Jl. Rumah Kayu Goen
Kp Cipari - Ds Ciakar - Kec. Panongan
Tangerang - Banten
021-70302988
hp: 0812 9259 132.