Tuesday, July 7, 2009

Salah sambung.


Rabu 8 Juli 2009, jam 10.15, baru saja pulang nyontreng,
tilpon rumah berdering :

Saya (S) : Hallow !!
Penilpon (P), suara ibu2 : Ini siapah ??

S : Lho, ibu mau bicara ama siapa ?
P : Saya mau bicara ama pembantu sayah !

S : Oh, kalo gitu ibu salah sambung, sebab saya bukan Pembantu Ibu !
P : Oh maap kalo gitu salah sambung yah.

S : OK, sip deh.

He3 - mayan, ada intermezo disuasana sepi tenang pagi ini.

Friday, June 19, 2009

Perjalanan panjang 24 tahun yang sudah terselesaikan.




Pelantikan dan Penyerahan Brevet Keahlian Ilmu Kesehatan Anak Nuke di
RS Hasan Sadikin Bandung sebenarnya jam 11 - Kamis 18 Juni 2009, tapi
daripada senewen takut telat kalau berangkat Kamis pagi maka Rabu malam
jam 20.30 saya dan istri meluncur menuju Bandung.

Sebenarnya tentu lebih enak tidak jalan malam hari, karena bisa ngantuk dan
malam hari lebih banyak kendaraan berat di jalur Jakarta - Cikampek.
Ternyata betul begitu, banyak truk besar beriringan seakan sedang ikut pawai
kampanye sehingga jalan tidak bisa cepat, sekitar jam 22.00 barulah sampai
di Km 67/belokan menuju Bandung.

Setelah itu barulah bisa injak gas lebih dalam, kendaraan bisa lari 140 Km/jam
karena selain nyaris tidak ada kendaraan besar - jalan juga jauh lebih sepi.
Tapi kini harus berjuang melawan mata yang sepet, selain perih kena angin AC
juga kantuk mulai datang, mana co-pilotnya anteng banget lagi alias bobo trus.

Sambil nyetir itu sempat teringat awal perjalanan Nuke sampai akhirnya jadi
12 tahun tinggal di Bandung.
Diawali suatu malam di tahun 1997, Nuke tampak kegirangan menerima tilpon
temannya yang memberitakan dia diterima di FK Unpad, lalu kerepotan bolak-
balik ke Bandung urusan pendaftaran sampai cari kost di daerah Jatinangor.
Saya tadinya mengira kuliahnya didalam kota Bandung, ternyata empat tahun
pertama di kampus Unpad yang jauh disebelah timur kota Bandung itu.

Sekian kali pindah kost, sampai lulus tepat waktu dari FK, dan ternyata bisa
lulus lagi ujian masuk pendidikan spesialisasi Anak.
Nyambung lagi dah rutinitas kami bolak balik nengok dia ke Bandung, padahal
jaman dulu tol baru sampai Cikampek saja, berikutnya perjalanan melewati
jalan bukan tol sampai Padalarang yang melelahkan karena relatif sempit.

Sekarang tentu jauh lebih nyaman, tak terasa 45 menit kemudian sudah tiba
di pintu tol Pasteur, seperti biasa kalau kebetulan ke Bandung malam hari
kami mampir dulu ke Ronde Jahe Gardujati disebrang Hotel Trio.
Kami senang menikmati suasana malam ditepi jalan yang masih ramai itu,
dan sekitar jam 24 barulah kami masuk hotel d'Batoe di Jl. Pasirkaliki.
Boutique hotel itu, berlantai tujuh, parkirannya lumayan banyak karena ada
parkir basement, dan saat di lift sempat berbincang dengan beberapa tamu
orang Malaysia yang baru saja tiba - rupanya kasus Ambalat dan Manohara
tidak menyurutkan niat mereka berkunjung, dan ternyata tujuan kedatangan
termasuk shopping ke Pasar Tanah Abang Jakarta.

Esoknya seperti sudah diperkirakan, persis seperti di RSCM atau di RSU
Tangerang, tidak mudah mendapatkan parkir di RS Hasan Sadikin.
Harus "keringatan" dulu barulah bisa parkir, padahal RSHS ini luas sekali.
Saya baru kali ini memasuki RSHS, yang tampak tertata rapih dan bersih,
jauh dari kesan kumuh RS pemerintah jaman dulu.

Acara berlangsung di Aula Bagian Penyakit Anak RSHS, sekaligus akan
dilantik tiga orang Dokter Anak baru, yang hadir didampingi suami/istrinya,
dan disaksikan juga oleh para orang tua dan mertua.
Banyak para profesor/dosen/tamu dari RSHS dan Bagian Anak Unpad hadir,
termasuk Prof.Cissy - Direktur RSHS yang tampak ceria dan awet muda.
Prof.Nanan, Kepala Bagian Anak Unpad/RSHS, saat memberikan sambutan
dengan sukacita menyampaikan bahwa pelantikan kali ini ada istimewanya
karena selain sekaligus tiga orang, juga semuanya lulus dengan nilai A.

Usai pelantikan, sore hari kami langsung kembali ke Tangerang, sesaat
sebelum mencapai Cawang terbaca peringatan bahwa Cawang-Semanggi
padat, kecepatan 10 Km/Jam, istri saya langsung merintah lewat tol arah
BSD saja - lha telat atuh - exit nya sudah sekian kilometer dibelakang.
Ya sudah ambil arah ke Priok, untuk nantinya nyambung ke tol Bandara.

Karena sudah sekitar jam 19.15 terpikir mau makan malam dulu, kalo gitu
ke Kelapa Gading saja - eh pas exit dari jalan tol sudah langsung padat
yang boleh dikata bukan lagi padat merayap tapi padat tiarap.

Rupanya perempatan Jalan A.Yani di daerah Sunter itu sedang perbaikan
jalan, setelah berkutet sekian lama akhirnya lolos juga dan pilih masuk
ke Mall Artha Gading karena mendadak istri saya teringat kalau tiap hari
Kamis malam disana ada acara line-dance kesukaannya.
Jadilah kami makan malam di Koufu Food Court, dan karena disitu ada
serombongan ibu-ibu yang berline-dance ria diiringi live-music itu maka
istri saya betah banget.
Sampai bandnya bener2 tamat jam 21.30 barulah dia inget pulang.

Menjelang jam 23 barulah kami tiba kembali dirumah, dengan perasaan
lega karena selain sudah tiba dari perjalanan yang panjang melelahkan,
juga perasaan lega dan penuh syukur bahwa perjalanan panjang Nuke
sekitar 24 tahun mulai dari SD dan SMP Strada St.Maria Tangerang -
SMA St.Ursula Jakarta sampai hari ini telah bisa dijalani dengan tuntas,
tepat waktu dan se-baik2nya.

Wednesday, June 10, 2009

Janganlah mencintai Anak anda !


Janganlah mencintai Anak anda !

Sore hari seperti biasa saya berkendara menuju Serpong sambil
mendengarkan radio Delta FM, dan terdengarlah pendapat diatas.
Ada pendengar radio yang menyatakan tidak setuju, koq aneh
orang tidak boleh mencintai anak kandung sendiri katanya.

Gobind Vashdev menyampaikan penjelasan dengan suaranya yang
lembut bahwa memang demikianlah seharusnya - kita janganlah
mencintai anak kita karena yang seharusnya adalah :
kita hendaknya membuat anak itu merasa bahwa dia dicintai !.

Tentu jadi bingung mendengar itu, dan Gobind memberikan contoh
untuk menjelaskan, katanya :
Kita sering dengar orangtua berkeluh kesah, bahwa sudah susah payah
membesarkan anak, memberikan perhatian, mencukupi kebutuhan dll,
tapi nggak keterima sama si anak.
Pokoknya sudah mati2an mencintai anaknya, tapi tidak bermakna.
Menurut Gobind, persoalannya adalah karena apa yang diinginkan si
anak bukanlah apa-apa yang telah diberikan oleh orang tuanya itu.

Kunci nya ada di bahasa kasih, kalau misalnya si anak memerlukan
belaian atau kata-kata yang membesarkan hati, tapi yang didapatnya
materi dll, maka cinta si orang tua jadilah nggak nyambung.
Sebaliknya kalau bahasa kasihnya nyambung maka si anak akan
merasa kalau dia dicintai - disitulah point-nya !

Sayang sekali saya sudah sampai di tujuan sehingga tidak sempat
mendengar lanjutannya.
Malam hari saya nanya ke Mbah Google - tentang Gobind Vashdev,
dan dapatlah alamat Facebook-nya.
Akhirnya bisa kontak e-mail dengannya, untuk pertanyaan saya yang
menanyakan apakah sudah membuat buku dari pemikiran2nya yang
jernih itu, dijawab :
saya memang sedang menyusun sebuah buku yang diambil dari artikel2
yang pernah saya tulis di majalah psikologi plus harapan saya di tahun ini
buku pertama ini bisa di terbitkan.

Mudah2an dalam waktu dekat kita bisa membaca bukunya itu.

Mengenai Gobind Vashdev bisa dilihat di :
http://profiles.friendster.com/gobinbali#moreabout



Berkunjung ke Neraka - Beppu Japan.


Hari ini saya sampai dua kali ke Supermal Lippo Karawaci,
soalnya pulang dari sana baru baca e-mail dari bung Wahyu Hidayat
(Reader Digest Indonesia) yang memberitahu kalau tulisan saya
tentang perjalanan ke Beppu-Japan telah dimuat di RDI edisi bulan Juni.

Ketimbang nyari sana sini, mending balik lagi dah ke Gramedia Lippo -
SuperMall, nyari2 di rak majalah tidak ketemu ternyata ditaruhnya di
rak buku dekat kasir.

Ini untuk kedua kalinya tulisan perjalanan singkat saya dimuat
di RDI, dulu tentang Taj Mahal.

Tulisan perjalanan di RDI, dibuat seakan menulis dalam kartupos,
jadi pendek saja, justru sangat sulit untuk bisa bercerita singkat
tapi padat  - pak Bondan juga pernah bilang seperti itu yaitu jauh
lebih mudah menulis cerita ukuran biasa.

Judul tulisan perjalanan itu : Berkunjung ke Neraka,
kenapa disebut Neraka - bisa dibaca di majalah itu  .


Friday, June 5, 2009

Pusing

Man temans,

Kayaknya banyak juga yang lagi pusing  soalnya mendadak tampilan MP berubah,
kini ada Media Locker yang cukup membingungkan menggunakannya.
Apalagi Inbox juga berubah, dan yang paling menyedihkan - kalau biasanya di Inbox
kita "di-ingatkan" oleh MP siapa2 teman yang berulang tahun hari itu, kini "hilang" -
apakah ada teman yang tahu ngumpet dimana sekarang itu.
Barusan nyari cara nge-post juga sempat kukurilingan nih.

Ayo atuh teman2 kasih tahu gimana main MP model baru ini, pusiiiing.

Sunday, May 10, 2009

Niatnya nyari Sea Food - ketemunya Monggo Mas & Goyang Karawang.




Sekitar tahun 1980-an dipantai Dadap, Kabupaten Tangerang bermunculan
banyak restoran sea food - sebenarnya sih cuma warung2 beratap rumbia,
bukan bangunan permanen beratap genteng.
Tapi karena lokasinya persis di tepi pantai dan sea foodnya terkesan fresh,
maka tempat itu lumayan nge-top, selalu ramai apalagi di hari libur.
Orang Jakarta-pun bisa mencapai Dadap dengan cukup mudah, karena
lokasinya persis bersebelahan dengan pantai Kamal/utara Cengkareng.

Seingat saya terakhir kesana sekitar akhir 1980-an, dan itupun karena melayat
teman yang dikremasi di krematorium yang berdekatan dengan lokasi restoran.
Penasaran karena ada yang bilang di Dadap masih ada restoran2 sea food itu,
maka Sabtu 9 Mei saya dan istri menuju kesana via bandara Soekarno-Hatta,
ada jalan baru sehingga tidak usah lewat TelukNaga lagi seperti jaman dulu.

Setelah melewati pintu barat kawasan bandara, mengarah ke jalan tol Sedyatmo,
tapi tidak jauh setelah gapura bandara, kami belok kekiri memasuki jalan biasa
dan berikutnya menelusuri kali Dadap yang ada disebelah kanan jalan.
Jalannya dibeton tapi dibeberapa tempat ada rusak sedikit-sedikit, dan surprise
sekali karena hanya 15 menit setelah belok kekiri itu sudah tiba dipertigaan,
yang kalau kekiri mengarah ke TelukNaga dan kalau kekanan kearah Kamal.
Setelah belok kekanan yang berarti menyebrangi Kali Dadap itu, langsung belok
kekiri mengarah ke pantai Dadap dimana krematorium dan restoran2 itu berada.

Ternyata jalannya rusak berat, penuh kubangan air, lumayan jauh mungkin
sekitar 1 kilometer barulah mentok ke pagar dari stasiun rambu penerbangan
Kali Dadap, berarti jalannya habis - sudah sampai ke tepi pantai.
Stasiun locator itu mungkin memancarkan signal untuk menjadi titik panduan
bagi pesawat yang akan mendarat di bandara Soekarno-Hatta, memang diatas
kepala kami tampak melintas banyak pesawat yang menurun kearah bandara.

Bersisian dengan stasiun itu terlihat tiga restoran yang lumayan besar2, tapi
melihat lingkungan-nya yang bukan main kotor-nya, dimana mana sampah dan
genangan air kotor maka kami balik kanan saja.

Krematorium juga masih berfungsi, malah Rumah Abu-nya yang besar sekali
itu sudah ada satu lagi.

Saat kembali mengarah ke ke pertigaan/jembatan Kali Dadap, karena jalannya
rusak berat sambil jalan merayap kami sempat tengok-tengok memperhatikan
deretan rumah sederhana dikiri kanan jalan yang sejak jaman dulu berfungsi
sebagai rumah hiburan esek-esek.
Ada yang rumah billiard, warung remang2 sampai bangunan permanen dari
sebuah Hotel berlantai dua yang memasang tulisan : Buka 24 jam !.
Saya sampai bilang sama istri, memang ada hotel yang buka nggak 24 jam ?.

Didepan beberapa rumah hiburan yang aktifnya dimalam hari itu, tampak
wanita2 muda yang mungkin pekerja di rumah2 itu sedang duduk2 santai.
Rumah-rumah hiburan itu rata-rata memasang nama, mulai dari Villa Dadap
(Iya lah memang lokasinya di Dadap koq, tapi masa villa kayak gitu), Villa -
Segar Alam ( ini bener-bener nggak nyambung, apanya yang seger disitu ? ).
Sampai nama-nama yang membuat kami berdua senyum-senyum :
Cafe Monggo Mas dan Wisma Goyang Karawang.

Saturday, May 2, 2009

Dari GERD sampai Miss Tekor.


Bicara Sakit Maag, sering2 menahun maklum biasanya kan orangnya bandel,
sudah tau nggak boleh makan/minum ini itu tapi tetap saja melanggar.
Memang susah, sudah larangannya segudang - makanan yang enak-enak lagi.
Dalam buku Dr. Handrawan Nadesul berjudul Resep Mudah Tetap Sehat,
pada halaman 165 - 176 yang membahas mengenai penyakit Maag, terdapat
aneka larangan, mencakup bukan saja makanan asam/pedas, roti dan mie,
teh dan coklat, sampai pepaya juga (mengandung papaine-pelunak daging).

Akibat bandel itu maka penyakitnya juga bandel nggak hilang2, saya memang
tidak minum alkohol, kopi atau masakan yang pedas2, tapi karena ranjaunya
kelewat banyak, yah kena lagi kena lagi.
Maagnya ini hilang timbul, sesekali bisa hebat seperti saat perjalanan di India.
Di kota Agra, tiba2 ulu hati nyeri luar biasa hebat, sampai2 saya pikir wuah
celaka kena serangan jantung nih - game gue deh di dekat Taj Mahal nih.
Belakangan ternyata ulah si Maag itu juga yang rupanya ngambek karena
kebanyakan kemasukan kare.

Belum lama saya menengok teman sejawat yang sempat dirawat di ICU
karena nyeri ulu hati hebat menembus kebelakang yang khas nyeri serangan
jantung, ternyata sekian hari nginap di ICU itu jantungnya baik-baik saja.

Banyak teman yang menganjurkan di Endoskopi saja, memang dengan di
teropong itu bisa dipastikan apa yang menyebabkan keluhan, apakah
radang, luka ataukah sudah terjadi kanker dan dimana lokasi kelainannya.
Tentu menjalani endoskopi bukan suatu hal yang mengenakkan, kita harus
"menelan" selang plastik berkamera sa-gede telunjuk, siapa sih yang
nggak ciut harus memasukkan monster warna hitam itu kedalam perut.
Teman2 dokter yang sudah pernah di endoskopi membujuk saya, antara
lain Dr. Anastina, SMSnya : Kalau saya boleh berbagi dok, dijalani saja,
sebentar aja koq, nggak sakit lagi, daripada kepikiran terus.
Kalau Dr. Nieng lain lagi SMSnya : saya aja yang cewek berani koq dok.

Tapi tetap saja nggak mempan, sampai di hari Minggu 26 April kemarin,
di suatu pertemuan saya ngobrol dengan teman dokter yang istrinya sudah
sekian tahun lalu meninggal. Saat saya tanyakan sakitnya apa - ternyata
kanker lambung, yang terlambat terdeteksi.
Wah kalo gini mah saya nggak ada pilihan lain dah, harus di endoskopi.

Esoknya, saya memasuki ruang Endoskopi RS Usada Insani, niatnya
mau lihat2 situasi, tempat/peralatan dan nanya2 ke petugas disana.
Kebetulan perawatnya ada, yang dengan sigap menjelaskan prosedurnya:
Mudah dok katanya, makan siang terakhir jam 11.00, jam 14 masih boleh
minum teh manis, setelah itu tidak boleh lagi.
Jam 18.30 sudah tiba disini, dan jam 19 dikerjakan endoskopinya, dengan
sebelumnya diberikan suntikan lewat pembuluh darah supaya tenang.
Endoskopinya bentar koq dok katanya, paling 3 - 5 menit, nggak kerasa
dan setelah terbangun, bisa langsung pulang.

Terakhir si suster nyebut nama-nama dokter senior yang juga pernah
di endoskopi disitu, ada spesialis jantung-kebidanan-penyakit dalam,
sampai mantan direktur sebuah rumah sakit besar.
Komplit dah ngomporin-nya suster ini, bikin saya jadi mantap.
OK jadi - saya daftar deh !

Oh, Dr. H. Chudahman Manan SpPD KGEH sedang Umroh, kata perawat,
Rabu pulang-nya tapi Kamis sudah melakukan endoskopi lagi.
Iya dah Kamis saya kesini.

Kamis sore saya mempersiapkan diri dengan seksama, termasuk mandi
super bersih sampai2 cuci rambut segala, pikir saya antisipasi kalau2
ada sesuatu sampai mesti nginap di RS maka kepala saya nggak gatal.

Jam 18.25 sudah lapor dan menunggu, istri saya sempat heran koq
saya nggak senewen, saya bilang kayaknya sih ini hasil latihan meditasi,
yang walaupun bolong-bolong nggak rutin tapi ada hasilnya juga rupanya.

Jam 19.00 masuk ke ruang tindakan, bertemu dengan Dr. Chudahman,
dokter yang tinggi besar, ramah dan ceria ini menanyakan keluhan saya
selama ini, dan akhirnya bilang ini kayaknya sih GERD.
GastroEsophageal Reflux Disease terjadi karena asam lambung masuk
ke esophagus, normal seharusnya flow makanan setelah ditelan -
melewati pipa esophagus, diujung hilir pipa esophagus ada cincin yang
bisa membuka/menutup.
Saat makanan ditelan dia membuka, makanan jatuh ke  lambung,
setelah itu menutup lagi agar tidak terjadi reflux/balik ke esophagus.
Kalau terjadi masalah pada cincin itu, asam lambung bisa menerobos
balik masuk ke esophagus.
Asam itu membuat luka pada dinding esophagus, sehingga timbul rasa
nyeri, sampai bisa pula memicu terjadinya kanker.

Suster kemudian mempersilahkan naik ke bed, setelah tiduran ujung jari
dipasang alat monitor denyut jantung, hidung dimasukkan selang Oksigen.
Buka mulut dan disemprot cairan anestesi yang terasa pahit agak pedas,
dan sebuah alat model dot bayi tanpa karet dotnya disumpal dimulut.
Tengah2 alat itu berlubang untuk jalan masuk selang nantinya.
Dipasang jarum ditangan kanan untuk memasukkan obat suntik, dan
diminta miring kekiri, ambil posisi tidur yang enak kata si suster.

Saya masih sempat mendengar istri saya dengan Dr.Chudahman masih
berbincang soal GERD, yang sering2 terjadi karena kebiasaan orang
setelah makan langsung tiduran, seharusnya 3 - 4 jam baru boleh begitu
agar tidak terjadi reflux asam lambung.

Suster kemudian menyuntikkan obat via jarum ke pembuluh darah di
tangan kanan saya itu - terasa agak panas disitu, terus -------------------------
mendadak terasa istri saya membangunkan saya :

Pap, bangun pap !,  udah selesai nih!.
Hah, udah selesai ?
Iya - udah setengah jam yang lalu ! Dikerjakannya tadi paling 3 menit saja,
ini kita sudah ada diruang observasi.
Hah, bener ? Oooh saya tadi langsung amblas rupanya !.

Tidak lama Dr. Chudahman datang dan menyerahkan laporan endoskopi
yang sudah diketik rapih berikut 4 buah foto bagian dalam lambung saya.
Ternyata memang ada sedikit peradangan dan lecet, tapi beliau bilang
tidak mengkhawatirkan dan tidak perlu tindakan lebih lanjut, hanya minum
obat2an dan menjaga makanan/minuman.
Whoaaa legaaaa, plong banget !.

Diperjalanan pulang, istri saya bilang lagi :
Pap, tadi kamu tidur enak banget tuh, sampe pake ngigo segala lagi.
Oh ya ?
Iya !, ngigonya nyebut Tekor - Tekor !
Haaah yang bener ??
Iya lah, kenceng2 lagi nyebutnya, suster-suster sampe pada ketawa !!

Astaga - untung aja nggak ada cewek cakep yang bernama Miss Tekor,
bisa-bisa pecah perang dunia dirumah !.


Catatan :
GERD ternyata bisa memicu berbagai penyakit sampai Asthma, Sinusitis dll,
silahkan membuka :
http://digestive.niddk.nih.gov/ddiseases/pubs/gerd/
http://www.medicinenet.com/gastroesophageal_reflux_disease_gerd/article.htm
http://en.wikipedia.org/wiki/Gastroesophageal_reflux_disease
http://jdokter.com/index.php?option=com_content&task=view&id=203&Itemid=2